Loading Website

fokussatu.id

#Tag :

Bagian Isi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bagian isi laporan PTK terdiri dari lima bab utama, yaitu pendahuluan, kajian teori dan tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil penelitian, dan penutup. Berikut ini adalah keterangan bab demi bab isi dari laporan PTK tersebut.

Bab I Pendahuluan

Sebagian besar , bahkan hampir seluruh isi bab ini memuat isi dalam proposal PTK. Secara lebih rinci, bagian ini terdiri dari unsur-unsur atau sub bab sebagai berikut:

Latar Belakang Masalah

Sub bab ini memuat deskripsi secara lengkap dan terperinci, disertai dengan data faktual awal yang menunjukkan kondisi sebuah kelas yang sedang bermasalah. Kemudian, juga ditegaskan bahwa permasalahan tersebut adalah penting dan segera harus diatasi, karena jika dibiarkan akan berujung pada proses pembelajaran yang tidak bermutu. Disamping itu, pada bab ini juga harus dicantumkan langkah-langkah yang akan dilakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Langkah atau tindakan tersebut harus didukung oleh teori yang kuat agar tidak terkesan hanya sebagai upaya 'trial and error'.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah problem statement (formulation) berupa kalimat pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian. Secara terperinci, unsur-unsur dalam rumusan masalah memuat who, what, when, where, dan how.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah harapan setelah penelitiannya berhasil. Oleh karena itu, tujuan umum dan khusus harus jelas, agar indikator keberhasilannya terukur dengan baik. Indikator perlu dicantumkan karena menjadi target tindakan yang akan dilakukan.

Manfaat Penelitian

Unsur ini terdiri dari pemaparan mengenai manfaat dari penelitian bagi siswa, guru, maupun sekolah. Tetapi, hendaknya peneliti tidak berlebihan dalam mencantumkan manfaat penelitiannya, karena target utama atau manfaat utama PTK adalah untuk siswa.

Bab II Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka

Bagian ini berisi pembahasan mengenai teori-teori pendukung tindakan yang dikenakan dalam penelitian. Jadi Bagian ini bukanlah terjemahan penelitian kata demi kata yang ada dalam judul penelitian. Kebanyakan guru mengisi bagian ini dengan menjelaskan pengertian judul secara harfiah. Misalnya, guru mengangkat judul "Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry untuk Kelas VI SD". Lantas, bagian ini menjelaskan kata-kata dalam judul tersebut yang diambil dari kamus, seperti peningkatan, aktivitas, belajar, matematika SD, dan inquiry. Jika ini terjadi, maka yang dipaparkan disini bukan sebuah teori, melainkan hanya terjemahan kata per kata semata.

Kajian teori yang dimaksud pada bagian ini adalah petunjuk atau arahan bahwa tindakan yang akan dikenakan kepada siswa mempunyai dasar yang jelas secara ilmiah dan dapat dibenarkan secara teoretis. Menurut Supardi dalam Suyadi (2012), bagian ini secara terperinci memuat unsur-unsur sebagai berikut:

satu, Ada teori-teori yang memberi arahan atau petunjuk tentang variabel permasalahan yang dipecahkan serta variabel, yang digunakan untuk mengatasinya.

dua, Terdapat usaha dari peneliti untuk memberikan argumen bahwa tindakan yang akan dikenakan pada siswa dalam penelitian diambil dan didukung oleh referensi baku atau standar, sehingga secara teoretis tindakan tersebut dibenarkan secara teori ilmiah.

tiga, Terdapat gambaran yang jelas mengenai kerangka berpikir penelitian yang akan dilakukan.

empat, Hipotesis tindakan (jika diperlukan).

Bab III Metode Penelitian

Metode penelitian pada PTK merupakan pelukisan proses tindakan yg akan dikenakan kepada anak didik secara lebih jelasnya & padat. Dengan istilah lain, metode penelitian pada PTK berisi langkah-langkah yang akan ditempuh peneliti pada mengenakan tindakan pada murid. Secara jelas, didalam langkah-langkah penelitian tadi, metode penelitian tindakan kelas memuat unsur-unsur menjadi berikut:

satu, Subjek penelitian (guru).

dua, Setting atau tempat penelitian.

tiga, Desain berupa rancangan penelitian atau cara-cara baku penelitian yang memuat berapa siklus penelitian diselesaikan, alat apa yang digunakan, media apa yang perlu disiapkan, dan lain sebagainya.

empat, Jenis instrumen dan cara penggunaannya, misalnya dengan menggunakan angket, wawancara, observasi, dan sebagainya.

lima, Pelaksanaan tindakan secara nyata dan konkret. Tindakan ini didasarkan pada analisis akar masalah yang ditemukan dan dilakukan secara fleksibel atau tidak secara ambisius.

enam, Cara pengamatan, misalnya: dengan pengamatan langsung, dengan alat bantu kamera, atau dengan bantuan pengamat khusus secara kolaboratif.

tujuh, Analisis dan refleksi, cara menganalisis dan dampak tindakan, kemajuan yang diperoleh, serta kelemahan-kelemahan yang ditemukan.

Bab IV Hasil Penelitian

Secara umum, bagian ini berisi tiga pokok bahasan utama, yakni setting penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. Berikut ini adalah keterangan ketiga pokok bahasan tersebut.

Setting Penelitian

Bagian ini berisi setting atau gambaran secara lengkap mengenai kondisi kelas tempat dilakukan penelitian. Semakin lengkap data kelas (seperti jumlah siswa, sarana prasarana, guru, media, dan lain sebagainya) maka semakin baik setting penelitian. Terlebih lagi, jika peneliti mampu merekam data kuantitatif yang dapat dimaknai secara kualitatif, tentu data ini sangat bermanfaat bagi tergambarnya kondisi nyata dari kelas yang akan diteliti.

Hasil Penelitian

Bagian ini berisi inti laporan, yakni hasil atau temuan penelitian. Mengingat pokok bahasan ini menjadi inti penulisan laporan, maka pemaparan pada bagian ini harus lengkap & komprehensif. Siklus demi daur dan perkembangan antara daur yg satu dengan yg lain harus disajikan menggunakan kentara. Penyajian data menggunakan kentara bisa dilakukan dengan grafik, tabel, maupun skema gambar.

Pembahasan

Pokok bahasan ini berisi interpretasi peneliti secara kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dan sudah disajikan pada bagian-bagian sebelumnya. Dengan kata lain, bahasan ini merangkaum semua siklus & semua aspek penelitian, lalu diformulasikan kedalam bentuk tabel juga grafik. Penelitian wajib mampu menggambarkan setiap insiden disemua siklus, khususnya peningkatan yg dicapai. Kemudian, peneliti pula mengemukakan faktor-faktor keberhasilan tadi, & atau faktor kegagalan dengan berbagai alasan yg rasional.

Bab V Penutup

Secara generik, epilog pada laporan PTK hanya terdiri berdasarkan dua hal, yakni konklusi & saran. Kesimpulan berisi output analisis semua isi laporan dengan menyesuaikan antara rumusan masalah dan pembahasan. Sedangkan saran berisi penerapan output penelitian dan tindak lanjut bila penelitian akan diteruskan.

DAFTAR RUJUKAN

Suyadi. (2012). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. DIVA Press. Jogyakarta.

Elfan mauludi

Bagian Isi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bagian Penunjang Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bagian penunjang, biasanya berisi daftar pustaka, lampiran, dan instrumen penelitian. Daftar pustaka, disamping berfungsi sebagai bacaan lanjut, juga dapat digunakan untuk melacak berbagai sumber yang berkaitan. Penulisan daftar pustaka dalam laporan PTK harus menggunakan aturan yang baku. Hingga saat ini, terdapat dua aturan penulisan daftar pustaka, yakni MLA (Modern Language Association) dan APA (American Psychological Association). Secara esensial, diantara keduanya tidak ada perbedaan yang krusial, kecuali pada cara penulisannya saja. Di Indonesia, aturan penulisan yang lazim digunakan adalah sistem APA (American Psychological Association). Berikut adalah contoh penulisan daftar pustaka dengan sistem APA (gambar 1).

Elfan mauludi

Bagian Penunjang Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kajian Teori

Dalam kajian teori, guru harus mencari & memaparkan majemuk teori yg mendukung ide buat bertindak. Sekadar model, seseorang pengajar mempunyai inspirasi buat memakai indera peraga dalam pembelajaran kimia supaya murid lebih gampang menguasai konsep-konsep kimiawi. Maka. Kitab yang bisa dijadikan asal referensi merupakan buku-kitab alat peraga & pembelajaran kimia yg didalamnya terdapat materi tersebut. Dengan demikian, peneliti bisa menemukan alasan yang bertenaga dan argumentasi yang seksama dan landasan teori yg kokoh untuk menguji coba idenya tersebut.

Kesalahan yang acapkali terjadi pada bagian ini merupakan peneliti hanya menjelaskan arti suatu kata kunci secara harfiah & tidak menaruh penjelasan seraca lebih dalam. Sekadar contoh, peneliti yg mengangkat judul "Penggunaan Alat Peraga buat Meningkatkan Pemahaman Konsep pada Mata Pelajaran Kimia Kelas X di SMA Yogyakartadanquot;, akan mendefinisikan istilah-kata penggunaan alat peraga, peningkatan, konsep, kimia, dan seterusnya, sinkron dengan maknanya pada kamus. Ini buka teori namanya, namun hanya terjemahan harfiah secara bahasa. Seharusnya, peneliti menggunakan teori mengenai indera peraga dan pelajaran kimia kelas X yg dicetuskan oleh seseorang ahli pendidikan atau ahli yang pakar dibidang materi tadi. Kemudian, berdasarkan teori yang telah dikaji tersebut peneliti bisa menyimpulkan bahwa penggunaan indera peraga dapat menaikkan pemahaman anak didik tentang konsep-konsep dasar dalam pelajaran kimia. Dengan demikian, secara teoretis, indera peraga bisa mengakibatkan suatu yang bastrak menjadi sesuatu yang berbentuk nyata atau suaty yg nyata dan bisa dipraktikkan. Hal ini menyebabkana anak didik lebih sanggup tahu konsep-konsep menurut mata pelajaran kimia dasar.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka menurut yang dikemukakan oleh Fink (1998) adalah bentuk rancangan atau desain yang tersistematis, bersifat eksplisit, dan dapat direproduksi atau dibuat ulang untuk keperluan identifikasi, evaluasi, serta penafsiran tubuh 'dokumen rekaman' yang ada untuk keperluan penelitian atau pembuatan karya ilmiah. Tinjauan pustaka biasanya memiliki dua tujuan yaitu, pertama, tinjauan pustaka bertujuan untuk merangkum hasil penelitian yang sudah ada atau yang telah dilaksanakan dengan mengidentifikasi pola, tema, dan permasalahan pada dokumen penelitian sebelumnya. kedua, tinjauan pustaka membantu mengidentifikasi isi konseptual lapangan (Meredith, 1993) dan berkontribusi pada pengembangan teori yang akan dilakukan pada kegiatan penelitian (Harland, et al. 2006). Sangat tidak mungkin untuk mengkaji semua teori penelitian yang telah dilakukan sebelumnya karena ada banyak sekali tinjauan pustaka yang harus ditinjau, oleh karena itu perlu dilakukan spesifikasi atau penyempitan ranah permasalahan yang akan dikaji dalam kegiatan penelitian yang dilakukan peneliti guna memberikan tinjauan atau ulasan yang akurat terhadap rumusan masalah penelitiaan pada kegiatan penelitian tindakan kelas atau bentuk penelitian lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

Fink A.(1998).Conducting research literature reviews: from paper to the internet. Thousand Oaks: Sage.

Meredith J. (1993). Theory building through conceptual methods. International Journal of Operations & Production Management. 13 (5) : 3–11.

Harland CM, Lamming RC, Walker H, Philips WE, Caldwell ND, Johnson TE, et al. (2006). Supply management: is it a discipline?. International Journal of Operations & Production Management. 26 (7) : 730–53.

elfan mauludi

Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kesalahan yang Menyebabkan Laporan PTK Tertolak

Beberapa kesalahan spesifik yg berakibatnya tertolaknya PTK adalah:

Lampiran Tidak Lengkap

Semua pelukisan dalam penelitian wajib didukung menggunakan bukti berupa data-data yg akurat. Bukti tersebut sanggup dalam bentuk dokumen-dokumen yg berkaitan contohnya, lbr evaluasi murid, gambar, foto, & lain sebagainya. Hal yg tidak kalah pentingnya adalah melampirkan seluruh instrumen penelitian, baik dalam bentuk angket, transkrip wawancara, juga hasil pengamatan yang ditunjukkan gambar ataupun foto.

Kesalahan yg acapkali terjadi adalah peneliti menganggap lampiran sebagai hal yg tidak krusial, sebagai akibatnya penyusunan lampiranpun terkesan sembarangan bahkan terdapat sebagian rujukan yang nir bisa dilampirkan menggunakan alasan hilang. Tentunya hal ini bisa menimbulkan keraguan tetang apakah deskripsi penelitian tadi benar-benar sinkron dengan keadaan yg sesungguhnya. Untuk menghindari hal ini, maka lampiran wajib lengkap & tersusun secara sistematis.

Jarak antara Pelaksanaan PTK dan Penilaian Terlalu Lama atau Kadarluarsa

Sejak dana pendidikan naik menjadi 20%, berbagai lomba penelitian khususnya PTK untuk guru mulai banyak digalakkan, baik dilingkup Dinas maupun Depag. Penghargaan yang diberikan cukup menggiurkan, sehingga cukup efektif untuk membakar semangat guru dalam mengembangkan profesinya melalui penelitian. Tentunya, kegiatan tersebut ada batas waktu yang diberikan. Proposal PTK yang disusun beberapa tahun yang lalu tidak akan bisa diterima, karena kondisinya tidak sesuai lagi dengan persoalan pembelajaran kekinian. Biasanya, yang melakukan hal ini adalah mereka yang dahulu pernah mencoba melakukan PTK belum selesai, kemudian ingin menyelesaikannya pada momentum-momentu seperti itu. Oleh karena itu, angkatlah permasalahan yang benar-benar up to date dan mendesak untuk dilakukan serta diselesaikan proposalnya secepat mungkin.

Kerangka Penulisan Tidak Sesuai menggunakan Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yg Berlaku

Setiap forum atau penyandang dana penelitian mempunyai anggaran main tersendiri dalam menetapkan kerangka penulisan PTK. Namun, satu hal yang kentara adalanya semuanya wajib mematuhi baku kerangka penulisan PTK yang telah ditetapkan secara baku. Para peneliti pula wajib mengikuti panduan yg berlaku dilembaga tadi. Misalnya saja, tak jarang kali didapati perbedaan antara panduan penulisan PTK antara instansi seperti Depag & Diknas.

Jika Anda guru dibawah naungan Depag, maka PTK yang ditulis harus menggunakan pedoman dari Depag. Tetapi, jika Anda adalah guru yang berada dibawah naungan Diknas, maka yang harus diikuti adalah pedoman penulisan dari Diknas, itupun masih harus disesuaikan dengan aturan wilayah masing-masing. Bukan tidak mungkin, setiap provinsi memiliki aturan-aturan yang berbeda dalam menetapkan  kriteria penulisan laporan PTK.

Walaupun demikian, dalam prinsipnya seluruh panduan penulisan PTK merupakan sama. Hal yg membedakan hanyalah teknis penulisannya. Oleh karenanya, hal ini seharusnya nir perlu diperdebatkan. Hal yg terpenting merupakan mengikuti mekanisme yang ada sinkron menggunakan pedoman yg berlaku di wilayah masing-masing.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah peneliti memakai panduan penulisan PTK sebatas pengetahuan yg mereka peroleh dari wilayah lain atau lembaga lain. Hal ini bukan berarti pedomannya yang galat, tetapi cara memilih panduan peneliti tersebut yang keliru. Oleh karenanya, pilih & pakai pedoman yg sudah ditetapkan dilembaga masing-masing.

Tidak Mendapat Pengesahan dari Kepala Sekolah

Hal ini mungkin sepertinya sepele, namun sangat krusial. Guru yg melakukan PTK wajib mendapatkan izin berdasarkan kepala sekolah. Hal ini bukan buat menghambat, namun justru buat membantu pengajar. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dikelas ini akan berjalan dengan lebih lancar dibawah naungan ketua sekolah. Inilah sebabnya, mengapa dalam tunjangan profesi masih ada poin penilaian berdasarkan atasan ke bawahan (kepala sekolah pada guru). Hal ini juga buat memantau kinerja guru agar sinkron menggunakan mekanisme yg ada. Termasuk pada hal ini merupakan izin dan pengesahan laporan hasil PTK. Dengan demikian, ratifikasi kepala sekolah pada laporan hasil PTK tidak bisa dihindari.

Elfan mauludi

Kesalahan yang Menyebabkan Laporan PTK Tertolak

Kesalahan Umum Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Merasa sudah Bertindak, Padahal Belum

Ciri spesial PTK adalah adanya tindakan secara nyata & konkret yang dilakukan sang murid atas dasar instruksi dari pengajar. Tindakan tersebut tidak boleh sembarangan, tetapi wajib dapat dibenarkan secara teoretis. Hal yang tidak kalah pentingnya merupakan, bahwa tindakan tersebut wajib sesuai dengan tugas profesional seseorang guru, & pula tindakan tadi nir boleh mengubah situasi alamiah pembelajaran yg sudah terdapat.

Kesalahan umum yang sering terjadi pada PTK adalah, guru atau peneliti merasa seolah-olah telah bertindak, padahal sebenarnya belum melakukan tindakan. Sekadar contoh, peneliti menemukan masalah terkait dengan kurangnya sarana prasarana belajar dikelas. Atas dasar termuan tersebut, guru berinisiatif melakukan PTK yang tujuannya untuk mengadakan sarana dan prasarana belajar, Caranya, ia mengajukan usulan kepada kepala sekolah agar mengadakan sarana prasaranan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Ini jelas bukan termasuk tindakan sebagaimana yang ditentukan dalam PTK, sebab tindakan itu lebih tepat disebut usulan, bukan tindakan. Dengan kata lain, ia hanya memberi perintah yang tidak terkait secara langsung dengan praktik pembelajaran.

Seharusnya, tindakan yang dilakukan adalah dengan membuatkan kreativitas pengajar maupun anak didik, sehingga kekurangan wahana & prasarana itu bisa diatasi dengan solusi alternatif yang lain. Tentu saja, fasilitas cara lain tersebut seharusnya dipikirkan dan dibentuk sang para anak didik sendiri, bukan pengajar. Ini baru tindakan yg sesuai dengan tugas dan profesionalisme seorang guru.

Kesalahan lain merupakan guru atau peneliti bertindak menggunakan melampaui kapasitasnya menjadi pengajar, bahkan cenderung serabutan. Misalnya, dalam proses identifikasi perkara, guru menemukan bahwa kebanyakan murid yang terlambat masuk ke sekolah merupakan lantaran mereka bangun kesiangan. Atas dasar temuan ini, lantas guru mengambil tindakan buat menghimbau para orang tua siswa buat membangunkan anak-anaknya lebih pagi. Ini pula bukan tindakan guru dalam kapasitasnya sebagai tugas profesional mengajar.

Apa yg seharusnya dilakukan oleh pengajar merupakan memberikan motivasi siswanya supaya mereka mau meminta donasi pada orang tua untuk membangunkan para murid agar nir bangun kesiangan. Lebih baik lagi apabila murid mau menyadari pentingnya bangun lebih pagi supaya nir terlambat. Jadi, siswa melakukan tugas atas instruksi guru. Ini baru tindakan yang sinkron menggunakan tugas profesionalisme guru.

Tidak Tampak Keaslian Penelitian

Kesalahan umum yang kebanyakan tidak disadari oleh peneliti adalah para guru mempunyai kecenderungan untuk ikut-ikutan mengangkat tema yang sama dalam melakukan PTK. Terlebih lagi, jika peneliti ikut-ikutan meneliti tema atau subjek yang sudah diteliti oleh peneliti terdahulu dengan alasan untuk mencontoh penelitian yang telah ada. Hal ini akan berdampak pada hilangnya nilai keaslian penelitian yang hendak diangkat karena tema atau subjek yang sama sudah banyak digali dan diteliti oleh peneliti-peneliti yang lain.

Kurangnya nilai keaslian dari penelitian inilah yang menjadi salah satu faktor krusial tertolaknya sebuah laporan PTK. Oleh karenanya, pernyataan keaslian ini perlu dicantumkan pada Bab 2, yakni dalam bagian tinjauan pustaka. Jadi, selesainya menelaah berbagai penelitian yg relevan, perlu ditunjukkan posisi penelitan yg diangkat berdasarkan sekian banyak penelitian yg telah terdapat.

Tidak Penting

Kesalahan umum yang lain adalah kurang penting atau tidak pentingnya nilai dari sebuah PTK. Meskipun peneliti bisa membangun argumen sebanyak mungkin, tetapi jika hal yang diteliti itu hanya membahas hal-hal yang tidak penting, maka penelitian tidak akan banyak manfaatnya. Penting yang dimaksud disini adalah adanya masalah krusial yang akan menimbulkan dampak yang lebih buruk jika tidak segera diatasi dengan PTK.

Oleh karenanya, identifikasi perkara wajib dilakukan menggunakan analisa yg tajam sebagai akibatnya peneliti bisa menemukan perkara yg sahih-benar krusial dan mendesak buat segera diatasi melalui PTK. Jika hal ini tidak dilakukan, maka peneliti akan terjebak pada perkara-masalah rutin dan sederhana yg nir layak buat dipecahkan melalui PTK. Akibatnya, kasus yg diangkat bukan perkara yang krusial & mendesak untuk segera diatasi, namun lebih cenderung kepada mencari-cari kasus dan pretensi memberi solusi. Dengan kata lain, peneliti acapkali kali mencari-cari konflik tadi tidak layak diangkat sebagai PTK.

Teknis Penulisan Kurang Ilmiah

Penulisan laporan PTK tidak sinkron menggunakan penulisan goresan pena lepas atau artikel bebas terkenal. Penulisan laporan PTK wajib ilmiah menggunakan memerhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah. Susunan kalimat yg kentara, penggunaan pertanda baca, sistematika pembahasan, & sebagainya telah diatur dalam standar penulisan karya ilmiah. Sekadar model, susunan kalimat wajib memakai aturan S-P-O-K; memakai catatan kaki, atau bentuk lain yang sudah diatur menjadi rujukan kutipan, sehingga penulis terhindar menurut pasal plagiasi. Tentu saja, hal yang tidak kalah pentingnya adalah sistematika penulisan mulai menurut judul, pengantar, daftar isi sampai epilog semuanya wajib tersusun secara sistematis.

Alur Logika Tidak Konsisten

Bangunan akal yg nir konsisten pada PTK akan sangat terlihat pada penyusunan laporannya. Inilah sebabnya, mengapa laporan PTK begitu mudah ditolak karena memang gampang dirunut alur logikanya. Bagaimana alur nalar yang konsisten tersebut? Alur logika yang konsisten merupakan adanya ketersinambungan antara akar masalah, rumusan perkara, rencana tindakan, metode yang digunakan, & output penelitian, yang seluruhnya terbatas hanya pada jawaban atas rumusan kasus yang sudah ditetapkan.

Sering terjadi merupakan pembahasan output penelitian dalam Bab IV nir sesuai dengan rumusan masalah dalam Bab I. Mungkin juga teori yg dipakai dalam Bab II kurang tepat & metode penelitiannya kurang jelas. Akibatnya, esensi penelitian justri tidak tercapai. Konsekuensinya, laporan penelitian terkesan seperti karangan atau pelukisan kelas semata. Seharusnya, pada menguraikan pembahasan, memang ditujukan secara khusus buat menjawab rumusan kasus yang telah ditetapkan pada Bab I.

Elfan mauludi

Kesalahan Umum Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kesalahan pada Bab I Pendahuluan

Kesalahan pada Penulisan Latar Belakang

Pada bagian latar belakang memuat tiga hal penting yaitu identifikasi kasus, menemukan akar perkara, dan ilham kreatif berupa tindakan yang ingin dikenakan pada anak didik. Identifikasi perkara adalah peneliti menggambarkan persoalan yang diangkat secara lebih jelasnya & mendalam. Konflik yg diangkat bukan pertarungan yg hanya 'dicari-cari', tetapi benar-benar masalah yg memang layak diangkat dalam PTK. Bahkan, perseteruan tadi dirasakan sang peneliti sangat penting & mendesak buat dilakukan.

Kesalaham umum yang terjadi adalah peneliti tidak memunculkan permasalahan yang benar-benar kritis dan mendesak untuk segera diatas. Terlebih lagi, jika pada bagian ini peneliti memulai deskripsi masalah dari hal-hal yang sangat umum dan tidak ada hubungannya dengan tema yang diangkat. Sekadar contoh, seorang guru hendak menyorot tentang rendahnya aktivitas belajar matematika, tetapi peneliti ini justru memulai mendeksripsikan persoalan ini dari UU SISDIKNAS. Ini jelas sia-sia dan menajadi tanda bahwa penelitian tidak fokus. Sebaiknya, diskripsi ini dimulai dengan langsung pada persoalan yang hendak diangkat secara tegas, pada, dan mendalam.

Setelah perseteruan berhasil dideskripsikan secara padat dan lebih jelasnya, maka wajib dilanjutkan menggunakan analisis penyebab pertarungan tersebut. Inilah yang disebut dengan menemukan akar masalah. Berbagai teori telah mengakui bahwa menemukan solusi yg akurat diperlukan temuan penyebab kasus secara sempurna pula.

Point terakhir pada bagian latar belakang yg harus dicantumkan merupakan inisiatif atau wangsit kreatif peneliti buat mengatasi perkara yang telah ditemukan akarnya tadi. Tentu, solusi yang dimaksud merupakan tindakan yang akan dikenakan pada murid. Yang tidak kalah pentingnya adalah, inspirasi tadi harus didukung sang teori yg relevan, sebagai akibatnya tindakannya mampu dibenarkan secara teoretis.

Kesalahan yg bianya terjadi dalam bagian ini adalah peneliti secara datang-tiba mengemukakan ilham atau gagasannya & ingin mengimplementasikannya pada kelas, tanpa alasan ilmiah yg mendukung. Bahkan, tak jarang kali peneliti tidak mencantumkan teori yang relevan buat mendukung inisiatif tadi. Hal ini bukan berarti PTK nir boleh berangkat dari inspirasi atau gagasan si peneliti, hanya saja apabila PTK berangkat menurut inspirasi atau gagasan peneliti hal tadi wajib didukung teori yang relevan sebagai akibatnya idenya tersebut bisa dibenarkan secara teoretis.

Kesalahan dalam Penulisan Rumusan Masalah

Sebagaimana disebutkan dalam bagian-bagian terdahulu, tekanan PTK lebih kepada proses, bukan semata-mata dalam hasil. Konsekuensinya, penulisan rumusan kasus tidak bisa tunggal (wajib lebih berdasarkan satu). Masalah wajib dirumuskan sedemikian rupa sehingga dengan menjawab rumusan kasus tadi, proses pembelajaran benar-benar meningkat. Satu hal yg nir boleh diabaikan adalah kalimat rumusan perkara wajib dimulai dengan istilah tanya (pada kalimat tanya) & didalamnya wajib masih ada metode mengatasi masalah yg digunakan.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penulisan rumusan masalah bersifat tunggal (hanya satu), itupun kalimatnya tidak lengkap. Contoh, PTK dengan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry Untuk Siswa Kelas V SD Yogyakarta", penulisan rumusan masalah dengan judul tersebut tidak boleh hanya satu, Berikut beberapa jenis contoh kalimat rumusan masalah.

satu, Apakah metode inquiry dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? Pertanyaan ini harus dijawab pada Bab 2, sekaligus untuk mempertegas bahwa penggunaan metode tersebut benar-benar ada teori yang melandasinya.

dua, Seberapa besar siswa termotivasi dalam belajar dengan menggunakan metode inquiry? Pertanyaan ini menguji apakah metode yang digunakan menarik bagi siswa atau tidak, membebani atau tidak, mudah atau tidak, dan lain sebagainya. Juga, pertanyaan tersebut harus dijawab pada bagian Bab IV.

tiga, Bagaimana penggunaan metode inquiry dalam meningkatkan aktivitas belajar matematika? Pertanyaan ini seolah-olah melanjutkan jawaban atau dua pertanyaan sebelumnya. Jadi, jika jawaban atau kedua pertanyaan di atas menunjukkan adanya peningkatan yang positif, maka pertanyaan ini berusaha untuk menerapkannya secara lebih baik.

Coba perhatikan rumusan masalah diatas! Masih ada pola yg sistematis ke arah indikasi peningkatan aktivitas belajar matematika secara jelas. Inilah yang dimaksud dengan rumusan perkara pada PTK nir boleh tunggal, namun wajib lebih berdasarkan satu.

Kesalahan dalam Penulisan Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian harus merujuk pada rumusan masalah. Misalnya, jika rumusan masalahnya "Apakah metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?", maka tujuan dari kegiatan penelitian adalah "Ingin mengetahui apakah penerapan metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar kimia siswa". Demikian seterusnya sehingga tujuan penelitian selalu merujuk pada rumusan masalah.

Kesalahan umum yang terjadi merupakan peneliti menuliskan tujuan penelitian tidak sinkron menggunakan rumusan kasus, baik isinya juga jumlah poinnya. Tetapi, kesalahan dalam subbab ini sangat mini , karena tidak terlalu sulit buat mengurutkannya.

Kesalahan pada Penulisan Manfaat

Manfaat Penelitian yang ditulis pada laporan PTK adalah manfaat bagi anak didik. Oleh karenanya, hendaknya para peneliti nir melebih-lebihkan pada mencantumkan manfaat penelitiannya, hingga-sampai termasuk mencantumkan manfaat bagi pengajar & sekolah.

Kesalahan pada Bab II Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka

Kesalahan pada bagian ini merupakan kesalahan yg paling poly dijumpai. Bahkan, kesulitan terbesar dalam PTK adalah dalam penyusunan bagian kajian teori & tinjauan pustaka ini. Bagian ini jua yang diklaim poly peneliti, khususnya guru, rawan dengan kesalahan. Berikut ini adalah liputan mengenai letak-letak kesalahan tadi.

Kesalahan pada Penulisan Kajian Teori

Pada prinsipnya, kajian teori berisi deskripsi dari aneka macam teori yg relevan dengan judul yg diangkat. Sedangkan kajian pustaka berisi aneka macam penelitian yg relevan dengan tema yang diusung. Sekadar model, PTK menggunakan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Bahasa Inggris menggunakan Metode Diskusi Kelompok secara Varatif buat Kelas IX SMA".

Teori yang seharusnya digunakan pada PTK tersebut setidaknya merupakan teori tentang remaja. Sebab, anak didik-siswai SMA termasuk menjadi golongan anak remaja. Poin-poin krusial menurut teori remaja yang perlu dikemukakan dalam bagian ini merupakan sifat-sifat remaja yg ingin mandiri, bebas berkreasi, ingin menerangkan kemampuannya, dan lain sebagainya. Dengan menyelidiki teori remaja ini, maka alasan mengapa metode yang digunakan merupakan metode diskusi akan sanggup dibenarkan secara teoretis, yakni karena kegiatan diskusi lebih sinkron dengan sifat-sifat remaja itu.

Kesalahan yg acapkali terjadi merupakan peneliti mengisi bagian ini menggunakan menerjemahkan judul penelitiannya. Misalnya, PTK menggunakan judul yg telah disebutkan sebelumnya. Kemudian, peneliti mengungkapkan kajian teori menggunakan 'menerjemahkan' judul, seperti Upaya, Peningkatan, Aktivitas, Belajar, Bahasa Inggris, Diskusi, dan seterusnya. Ini bukan kajian teori, melainkan terjemahan judul. Tentunya, hal ini merupakan suatu yg kurang sempurna dalam kegiatan penelitian.

Kesalahan lain yang pula tak jarang terjadi dalam aktivitas PTK adalah peneliti tidak mengungkapkan menggunakan kentara dukungan teoretis secara mendalam atas tindakan yang dikenanan kepada anak didik. Jika metode yang digunakan adalah diskusi secara variatif, maka peneliti wajib mencari teori yg berbicara tentang tanggung jawab anak didik, karena diskusi terkait erat dengan mengungkapkan pendapat secara bertanggung jawab sebagai akibatnya menggunakan hal ini diharapkan motivasi belajar akan meningkat. Pendek istilah, kajian teori harus memberitahuakn adanya interaksi sebab dan akibat antara tindakan yg dikenakan & efek yg ditimbulkan.

Kesalahan pada Penulisan Tinjauan Pustaka

Selain kajian teori, harus ada juga tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka berisi deskripsi menurut beberapa penelitian yang terkait atau relevan. Gunanya merupakan buat melihat posisi penelitian yg diangkat dengan penelitian-penelitian lain yang telah terdapat. Tetapi, hal ini bukan berarti perbandingan antar penelitian. Tinjauan pustaka hanya dimaksudkan buat memperlihatkan bahwa penelitian yg diangkat sahih-benar tidak sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya atau penelitian yg telah terdapat. Oleh karenanya, diakhir bagian ini, wajib ditegaskan kembali orisinalitas penelitian yang diangkat.

Kesalahan generik yang sering terjadi merupakan peneliti tidak mencantumkan hasil-output penelitian sebelumnya, sehingga nilai orisinalitas penelitian sebagai sangat berkurang apabila dibandingkan dengan penelitian lain yang sudah ada. Hal ini akan menciptakan poly pihak ragu, apakah penelitian yang diangkat orisinal atau tidak.

Kesalahan pada Bab III Metode Penelitian

Bab tiga, yang berisi tentang metode penelitian, juga tidak kalah rumitnya bila dibandingkan dengan kajian teori dan tinjauan pustaka pada bab dua. Bagian ini berisi langkah-langkah praktis yang disusun secara detail dan sistematis. Jadi, bagian ini bukan lagi sekadar membahas teori dan konsep penelitian, melainkan telah sampai pada perencanaan, pelaksanaan, observasi,  hingga refleksi. Dengan kata lain, bagian ini berisi perencanaan siklus-siklus dalam penelitian, disamping metodologi secara umum.

Kesalahan yang seringkali terjadi adalah peneliti tidak menguraikan langkah-langkah tindakan secara mudah, namun masih sebatas memaparkan metode secara generik, seperti wawancara, angket, observasi, supervisi, dan sebagainya. Itu seluruh baru alat atau instrumen dari penelitian. Sedangkan yang dimaksud dalam bagian ini adalah penggunaan indera-alat tersebut sampai pada ranah simpel, disamping penjelasan mengenai alat-indera itu sendiri. Sekadar contoh, saat metode pengumpulan data menggunakan teknik angket, maka pada bagian ini harus menyebutkan kisi-kisi isi angket dengan jelas. Demikian jua dengan indikator-indikator yang ingin dicapai dalam penelitian. Semuanya harus terurai menggunakan rinci dan sistematis.

Kesalahan pada Bab IV Hasil Penelitian

Bagian empat adalah bagian inti penelitian yang berisi temuan-temuan penelitian. Temuan penelitian wajib terdeskripsikan secara kentara, bahkan jika memungkinkan data telah terdapat sebelum dilakukannya penelitian sehingga tampak kentara seberapa akbar temuan penelitian tersebut. Secara umum, bagian ini berupaya mendeskripsikan sedetail mungkin berdasarkan daur ke daur dan termin demi tahap penelitian serta pencapaian demi pencapaian yang diperoleh menurut kegiatan penelitian. Kemudian, menurut daur yang ada dianalisis seberapa akbar peningkatan aktivitas belajar yang bisa dicapai & hasil berdasarkan pencapaian tadi.

Kesalahan generik dalam bagian ini adalah, peneliti tidak menguraikan atau mendeskripsikan tindakan yang dilakukan sepanjang penelitian secara rinci, dan lebih jelasnya, mulai berdasarkan siklus pertama sampai terakhir. Akibatnya, hasil penelitian lebih seperti misalnya karangan yang kurang meyakinkan nilai kebenarannya. Wajar bila penelitian misalnya ini tertolak oleh tim penilai lantaran kurang akurat.

Elfan mauludi

Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)