Bagian Isi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Bagian isi laporan PTK terdiri dari lima bab utama, yaitu pendahuluan, kajian teori dan tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil penelitian, dan penutup. Berikut ini adalah keterangan bab demi bab isi dari laporan PTK tersebut.
Bab I Pendahuluan
Sebagian besar , bahkan hampir seluruh isi bab ini memuat isi dalam proposal PTK. Secara lebih rinci, bagian ini terdiri dari unsur-unsur atau sub bab sebagai berikut:
Latar Belakang Masalah
Sub bab ini memuat deskripsi secara lengkap dan terperinci, disertai dengan data faktual awal yang menunjukkan kondisi sebuah kelas yang sedang bermasalah. Kemudian, juga ditegaskan bahwa permasalahan tersebut adalah penting dan segera harus diatasi, karena jika dibiarkan akan berujung pada proses pembelajaran yang tidak bermutu. Disamping itu, pada bab ini juga harus dicantumkan langkah-langkah yang akan dilakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Langkah atau tindakan tersebut harus didukung oleh teori yang kuat agar tidak terkesan hanya sebagai upaya 'trial and error'.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah problem statement (formulation) berupa kalimat pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian. Secara terperinci, unsur-unsur dalam rumusan masalah memuat who, what, when, where, dan how.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah harapan setelah penelitiannya berhasil. Oleh karena itu, tujuan umum dan khusus harus jelas, agar indikator keberhasilannya terukur dengan baik. Indikator perlu dicantumkan karena menjadi target tindakan yang akan dilakukan.
Manfaat Penelitian
Unsur ini terdiri dari pemaparan mengenai manfaat dari penelitian bagi siswa, guru, maupun sekolah. Tetapi, hendaknya peneliti tidak berlebihan dalam mencantumkan manfaat penelitiannya, karena target utama atau manfaat utama PTK adalah untuk siswa.
Bab II Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
Bagian ini berisi pembahasan mengenai teori-teori pendukung tindakan yang dikenakan dalam penelitian. Jadi Bagian ini bukanlah terjemahan penelitian kata demi kata yang ada dalam judul penelitian. Kebanyakan guru mengisi bagian ini dengan menjelaskan pengertian judul secara harfiah. Misalnya, guru mengangkat judul "Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry untuk Kelas VI SD". Lantas, bagian ini menjelaskan kata-kata dalam judul tersebut yang diambil dari kamus, seperti peningkatan, aktivitas, belajar, matematika SD, dan inquiry. Jika ini terjadi, maka yang dipaparkan disini bukan sebuah teori, melainkan hanya terjemahan kata per kata semata.
Kajian teori yang dimaksud pada bagian ini adalah petunjuk atau arahan bahwa tindakan yang akan dikenakan kepada siswa mempunyai dasar yang jelas secara ilmiah dan dapat dibenarkan secara teoretis. Menurut Supardi dalam Suyadi (2012), bagian ini secara terperinci memuat unsur-unsur sebagai berikut:
satu, Ada teori-teori yang memberi arahan atau petunjuk tentang variabel permasalahan yang dipecahkan serta variabel, yang digunakan untuk mengatasinya.
dua, Terdapat usaha dari peneliti untuk memberikan argumen bahwa tindakan yang akan dikenakan pada siswa dalam penelitian diambil dan didukung oleh referensi baku atau standar, sehingga secara teoretis tindakan tersebut dibenarkan secara teori ilmiah.
tiga, Terdapat gambaran yang jelas mengenai kerangka berpikir penelitian yang akan dilakukan.
empat, Hipotesis tindakan (jika diperlukan).
Bab III Metode Penelitian
Metode penelitian pada PTK merupakan pelukisan proses tindakan yg akan dikenakan kepada anak didik secara lebih jelasnya & padat. Dengan istilah lain, metode penelitian pada PTK berisi langkah-langkah yang akan ditempuh peneliti pada mengenakan tindakan pada murid. Secara jelas, didalam langkah-langkah penelitian tadi, metode penelitian tindakan kelas memuat unsur-unsur menjadi berikut:
satu, Subjek penelitian (guru).
dua, Setting atau tempat penelitian.
tiga, Desain berupa rancangan penelitian atau cara-cara baku penelitian yang memuat berapa siklus penelitian diselesaikan, alat apa yang digunakan, media apa yang perlu disiapkan, dan lain sebagainya.
empat, Jenis instrumen dan cara penggunaannya, misalnya dengan menggunakan angket, wawancara, observasi, dan sebagainya.
lima, Pelaksanaan tindakan secara nyata dan konkret. Tindakan ini didasarkan pada analisis akar masalah yang ditemukan dan dilakukan secara fleksibel atau tidak secara ambisius.
enam, Cara pengamatan, misalnya: dengan pengamatan langsung, dengan alat bantu kamera, atau dengan bantuan pengamat khusus secara kolaboratif.
tujuh, Analisis dan refleksi, cara menganalisis dan dampak tindakan, kemajuan yang diperoleh, serta kelemahan-kelemahan yang ditemukan.
Bab IV Hasil Penelitian
Secara umum, bagian ini berisi tiga pokok bahasan utama, yakni setting penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. Berikut ini adalah keterangan ketiga pokok bahasan tersebut.
Setting Penelitian
Bagian ini berisi setting atau gambaran secara lengkap mengenai kondisi kelas tempat dilakukan penelitian. Semakin lengkap data kelas (seperti jumlah siswa, sarana prasarana, guru, media, dan lain sebagainya) maka semakin baik setting penelitian. Terlebih lagi, jika peneliti mampu merekam data kuantitatif yang dapat dimaknai secara kualitatif, tentu data ini sangat bermanfaat bagi tergambarnya kondisi nyata dari kelas yang akan diteliti.
Hasil Penelitian
Bagian ini berisi inti laporan, yakni hasil atau temuan penelitian. Mengingat pokok bahasan ini menjadi inti penulisan laporan, maka pemaparan pada bagian ini harus lengkap & komprehensif. Siklus demi daur dan perkembangan antara daur yg satu dengan yg lain harus disajikan menggunakan kentara. Penyajian data menggunakan kentara bisa dilakukan dengan grafik, tabel, maupun skema gambar.
Pembahasan
Pokok bahasan ini berisi interpretasi peneliti secara kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dan sudah disajikan pada bagian-bagian sebelumnya. Dengan kata lain, bahasan ini merangkaum semua siklus & semua aspek penelitian, lalu diformulasikan kedalam bentuk tabel juga grafik. Penelitian wajib mampu menggambarkan setiap insiden disemua siklus, khususnya peningkatan yg dicapai. Kemudian, peneliti pula mengemukakan faktor-faktor keberhasilan tadi, & atau faktor kegagalan dengan berbagai alasan yg rasional.
Bab V Penutup
Secara generik, epilog pada laporan PTK hanya terdiri berdasarkan dua hal, yakni konklusi & saran. Kesimpulan berisi output analisis semua isi laporan dengan menyesuaikan antara rumusan masalah dan pembahasan. Sedangkan saran berisi penerapan output penelitian dan tindak lanjut bila penelitian akan diteruskan.
DAFTAR RUJUKAN
Suyadi. (2012). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. DIVA Press. Jogyakarta.
Elfan mauludi
Bagian Isi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Bagian Penunjang Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Bagian penunjang, biasanya berisi daftar pustaka, lampiran, dan instrumen penelitian. Daftar pustaka, disamping berfungsi sebagai bacaan lanjut, juga dapat digunakan untuk melacak berbagai sumber yang berkaitan. Penulisan daftar pustaka dalam laporan PTK harus menggunakan aturan yang baku. Hingga saat ini, terdapat dua aturan penulisan daftar pustaka, yakni MLA (Modern Language Association) dan APA (American Psychological Association). Secara esensial, diantara keduanya tidak ada perbedaan yang krusial, kecuali pada cara penulisannya saja. Di Indonesia, aturan penulisan yang lazim digunakan adalah sistem APA (American Psychological Association). Berikut adalah contoh penulisan daftar pustaka dengan sistem APA (gambar 1).
Elfan mauludi
Bagian Penunjang Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kajian Teori
Dalam kajian teori, guru harus mencari & memaparkan majemuk teori yg mendukung ide buat bertindak. Sekadar model, seseorang pengajar mempunyai inspirasi buat memakai indera peraga dalam pembelajaran kimia supaya murid lebih gampang menguasai konsep-konsep kimiawi. Maka. Kitab yang bisa dijadikan asal referensi merupakan buku-kitab alat peraga & pembelajaran kimia yg didalamnya terdapat materi tersebut. Dengan demikian, peneliti bisa menemukan alasan yang bertenaga dan argumentasi yang seksama dan landasan teori yg kokoh untuk menguji coba idenya tersebut.
Kesalahan yang acapkali terjadi pada bagian ini merupakan peneliti hanya menjelaskan arti suatu kata kunci secara harfiah & tidak menaruh penjelasan seraca lebih dalam. Sekadar contoh, peneliti yg mengangkat judul "Penggunaan Alat Peraga buat Meningkatkan Pemahaman Konsep pada Mata Pelajaran Kimia Kelas X di SMA Yogyakartadanquot;, akan mendefinisikan istilah-kata penggunaan alat peraga, peningkatan, konsep, kimia, dan seterusnya, sinkron dengan maknanya pada kamus. Ini buka teori namanya, namun hanya terjemahan harfiah secara bahasa. Seharusnya, peneliti menggunakan teori mengenai indera peraga dan pelajaran kimia kelas X yg dicetuskan oleh seseorang ahli pendidikan atau ahli yang pakar dibidang materi tadi. Kemudian, berdasarkan teori yang telah dikaji tersebut peneliti bisa menyimpulkan bahwa penggunaan indera peraga dapat menaikkan pemahaman anak didik tentang konsep-konsep dasar dalam pelajaran kimia. Dengan demikian, secara teoretis, indera peraga bisa mengakibatkan suatu yang bastrak menjadi sesuatu yang berbentuk nyata atau suaty yg nyata dan bisa dipraktikkan. Hal ini menyebabkana anak didik lebih sanggup tahu konsep-konsep menurut mata pelajaran kimia dasar.
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka menurut yang dikemukakan oleh Fink (1998) adalah bentuk rancangan atau desain yang tersistematis, bersifat eksplisit, dan dapat direproduksi atau dibuat ulang untuk keperluan identifikasi, evaluasi, serta penafsiran tubuh 'dokumen rekaman' yang ada untuk keperluan penelitian atau pembuatan karya ilmiah. Tinjauan pustaka biasanya memiliki dua tujuan yaitu, pertama, tinjauan pustaka bertujuan untuk merangkum hasil penelitian yang sudah ada atau yang telah dilaksanakan dengan mengidentifikasi pola, tema, dan permasalahan pada dokumen penelitian sebelumnya. kedua, tinjauan pustaka membantu mengidentifikasi isi konseptual lapangan (Meredith, 1993) dan berkontribusi pada pengembangan teori yang akan dilakukan pada kegiatan penelitian (Harland, et al. 2006). Sangat tidak mungkin untuk mengkaji semua teori penelitian yang telah dilakukan sebelumnya karena ada banyak sekali tinjauan pustaka yang harus ditinjau, oleh karena itu perlu dilakukan spesifikasi atau penyempitan ranah permasalahan yang akan dikaji dalam kegiatan penelitian yang dilakukan peneliti guna memberikan tinjauan atau ulasan yang akurat terhadap rumusan masalah penelitiaan pada kegiatan penelitian tindakan kelas atau bentuk penelitian lainnya.
DAFTAR RUJUKAN
Fink A.(1998).Conducting research literature reviews: from paper to the internet. Thousand Oaks: Sage.
Meredith J. (1993). Theory building through conceptual methods. International Journal of Operations & Production Management. 13 (5) : 3–11.
Harland CM, Lamming RC, Walker H, Philips WE, Caldwell ND, Johnson TE, et al. (2006). Supply management: is it a discipline?. International Journal of Operations & Production Management. 26 (7) : 730–53.
elfan mauludi
Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kesalahan yang Menyebabkan Laporan PTK Tertolak
Beberapa kesalahan spesifik yg berakibatnya tertolaknya PTK adalah:
Lampiran Tidak Lengkap
Semua pelukisan dalam penelitian wajib didukung menggunakan bukti berupa data-data yg akurat. Bukti tersebut sanggup dalam bentuk dokumen-dokumen yg berkaitan contohnya, lbr evaluasi murid, gambar, foto, & lain sebagainya. Hal yg tidak kalah pentingnya adalah melampirkan seluruh instrumen penelitian, baik dalam bentuk angket, transkrip wawancara, juga hasil pengamatan yang ditunjukkan gambar ataupun foto.
Kesalahan yg acapkali terjadi adalah peneliti menganggap lampiran sebagai hal yg tidak krusial, sebagai akibatnya penyusunan lampiranpun terkesan sembarangan bahkan terdapat sebagian rujukan yang nir bisa dilampirkan menggunakan alasan hilang. Tentunya hal ini bisa menimbulkan keraguan tetang apakah deskripsi penelitian tadi benar-benar sinkron dengan keadaan yg sesungguhnya. Untuk menghindari hal ini, maka lampiran wajib lengkap & tersusun secara sistematis.
Jarak antara Pelaksanaan PTK dan Penilaian Terlalu Lama atau Kadarluarsa
Sejak dana pendidikan naik menjadi 20%, berbagai lomba penelitian khususnya PTK untuk guru mulai banyak digalakkan, baik dilingkup Dinas maupun Depag. Penghargaan yang diberikan cukup menggiurkan, sehingga cukup efektif untuk membakar semangat guru dalam mengembangkan profesinya melalui penelitian. Tentunya, kegiatan tersebut ada batas waktu yang diberikan. Proposal PTK yang disusun beberapa tahun yang lalu tidak akan bisa diterima, karena kondisinya tidak sesuai lagi dengan persoalan pembelajaran kekinian. Biasanya, yang melakukan hal ini adalah mereka yang dahulu pernah mencoba melakukan PTK belum selesai, kemudian ingin menyelesaikannya pada momentum-momentu seperti itu. Oleh karena itu, angkatlah permasalahan yang benar-benar up to date dan mendesak untuk dilakukan serta diselesaikan proposalnya secepat mungkin.
Kerangka Penulisan Tidak Sesuai menggunakan Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yg Berlaku
Setiap forum atau penyandang dana penelitian mempunyai anggaran main tersendiri dalam menetapkan kerangka penulisan PTK. Namun, satu hal yang kentara adalanya semuanya wajib mematuhi baku kerangka penulisan PTK yang telah ditetapkan secara baku. Para peneliti pula wajib mengikuti panduan yg berlaku dilembaga tadi. Misalnya saja, tak jarang kali didapati perbedaan antara panduan penulisan PTK antara instansi seperti Depag & Diknas.
Jika Anda guru dibawah naungan Depag, maka PTK yang ditulis harus menggunakan pedoman dari Depag. Tetapi, jika Anda adalah guru yang berada dibawah naungan Diknas, maka yang harus diikuti adalah pedoman penulisan dari Diknas, itupun masih harus disesuaikan dengan aturan wilayah masing-masing. Bukan tidak mungkin, setiap provinsi memiliki aturan-aturan yang berbeda dalam menetapkan kriteria penulisan laporan PTK.
Walaupun demikian, dalam prinsipnya seluruh panduan penulisan PTK merupakan sama. Hal yg membedakan hanyalah teknis penulisannya. Oleh karenanya, hal ini seharusnya nir perlu diperdebatkan. Hal yg terpenting merupakan mengikuti mekanisme yang ada sinkron menggunakan pedoman yg berlaku di wilayah masing-masing.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah peneliti memakai panduan penulisan PTK sebatas pengetahuan yg mereka peroleh dari wilayah lain atau lembaga lain. Hal ini bukan berarti pedomannya yang galat, tetapi cara memilih panduan peneliti tersebut yang keliru. Oleh karenanya, pilih & pakai pedoman yg sudah ditetapkan dilembaga masing-masing.
Tidak Mendapat Pengesahan dari Kepala Sekolah
Hal ini mungkin sepertinya sepele, namun sangat krusial. Guru yg melakukan PTK wajib mendapatkan izin berdasarkan kepala sekolah. Hal ini bukan buat menghambat, namun justru buat membantu pengajar. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dikelas ini akan berjalan dengan lebih lancar dibawah naungan ketua sekolah. Inilah sebabnya, mengapa dalam tunjangan profesi masih ada poin penilaian berdasarkan atasan ke bawahan (kepala sekolah pada guru). Hal ini juga buat memantau kinerja guru agar sinkron menggunakan mekanisme yg ada. Termasuk pada hal ini merupakan izin dan pengesahan laporan hasil PTK. Dengan demikian, ratifikasi kepala sekolah pada laporan hasil PTK tidak bisa dihindari.
Elfan mauludi
Kesalahan yang Menyebabkan Laporan PTK Tertolak
Kesalahan Umum Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Merasa sudah Bertindak, Padahal Belum
Ciri spesial PTK adalah adanya tindakan secara nyata & konkret yang dilakukan sang murid atas dasar instruksi dari pengajar. Tindakan tersebut tidak boleh sembarangan, tetapi wajib dapat dibenarkan secara teoretis. Hal yang tidak kalah pentingnya merupakan, bahwa tindakan tersebut wajib sesuai dengan tugas profesional seseorang guru, & pula tindakan tadi nir boleh mengubah situasi alamiah pembelajaran yg sudah terdapat.
Kesalahan umum yang sering terjadi pada PTK adalah, guru atau peneliti merasa seolah-olah telah bertindak, padahal sebenarnya belum melakukan tindakan. Sekadar contoh, peneliti menemukan masalah terkait dengan kurangnya sarana prasarana belajar dikelas. Atas dasar termuan tersebut, guru berinisiatif melakukan PTK yang tujuannya untuk mengadakan sarana dan prasarana belajar, Caranya, ia mengajukan usulan kepada kepala sekolah agar mengadakan sarana prasaranan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Ini jelas bukan termasuk tindakan sebagaimana yang ditentukan dalam PTK, sebab tindakan itu lebih tepat disebut usulan, bukan tindakan. Dengan kata lain, ia hanya memberi perintah yang tidak terkait secara langsung dengan praktik pembelajaran.
Seharusnya, tindakan yang dilakukan adalah dengan membuatkan kreativitas pengajar maupun anak didik, sehingga kekurangan wahana & prasarana itu bisa diatasi dengan solusi alternatif yang lain. Tentu saja, fasilitas cara lain tersebut seharusnya dipikirkan dan dibentuk sang para anak didik sendiri, bukan pengajar. Ini baru tindakan yg sesuai dengan tugas dan profesionalisme seorang guru.
Kesalahan lain merupakan guru atau peneliti bertindak menggunakan melampaui kapasitasnya menjadi pengajar, bahkan cenderung serabutan. Misalnya, dalam proses identifikasi perkara, guru menemukan bahwa kebanyakan murid yang terlambat masuk ke sekolah merupakan lantaran mereka bangun kesiangan. Atas dasar temuan ini, lantas guru mengambil tindakan buat menghimbau para orang tua siswa buat membangunkan anak-anaknya lebih pagi. Ini pula bukan tindakan guru dalam kapasitasnya sebagai tugas profesional mengajar.
Apa yg seharusnya dilakukan oleh pengajar merupakan memberikan motivasi siswanya supaya mereka mau meminta donasi pada orang tua untuk membangunkan para murid agar nir bangun kesiangan. Lebih baik lagi apabila murid mau menyadari pentingnya bangun lebih pagi supaya nir terlambat. Jadi, siswa melakukan tugas atas instruksi guru. Ini baru tindakan yang sinkron menggunakan tugas profesionalisme guru.
Tidak Tampak Keaslian Penelitian
Kesalahan umum yang kebanyakan tidak disadari oleh peneliti adalah para guru mempunyai kecenderungan untuk ikut-ikutan mengangkat tema yang sama dalam melakukan PTK. Terlebih lagi, jika peneliti ikut-ikutan meneliti tema atau subjek yang sudah diteliti oleh peneliti terdahulu dengan alasan untuk mencontoh penelitian yang telah ada. Hal ini akan berdampak pada hilangnya nilai keaslian penelitian yang hendak diangkat karena tema atau subjek yang sama sudah banyak digali dan diteliti oleh peneliti-peneliti yang lain.
Kurangnya nilai keaslian dari penelitian inilah yang menjadi salah satu faktor krusial tertolaknya sebuah laporan PTK. Oleh karenanya, pernyataan keaslian ini perlu dicantumkan pada Bab 2, yakni dalam bagian tinjauan pustaka. Jadi, selesainya menelaah berbagai penelitian yg relevan, perlu ditunjukkan posisi penelitan yg diangkat berdasarkan sekian banyak penelitian yg telah terdapat.
Tidak Penting
Kesalahan umum yang lain adalah kurang penting atau tidak pentingnya nilai dari sebuah PTK. Meskipun peneliti bisa membangun argumen sebanyak mungkin, tetapi jika hal yang diteliti itu hanya membahas hal-hal yang tidak penting, maka penelitian tidak akan banyak manfaatnya. Penting yang dimaksud disini adalah adanya masalah krusial yang akan menimbulkan dampak yang lebih buruk jika tidak segera diatasi dengan PTK.
Oleh karenanya, identifikasi perkara wajib dilakukan menggunakan analisa yg tajam sebagai akibatnya peneliti bisa menemukan perkara yg sahih-benar krusial dan mendesak buat segera diatasi melalui PTK. Jika hal ini tidak dilakukan, maka peneliti akan terjebak pada perkara-masalah rutin dan sederhana yg nir layak buat dipecahkan melalui PTK. Akibatnya, kasus yg diangkat bukan perkara yang krusial & mendesak untuk segera diatasi, namun lebih cenderung kepada mencari-cari kasus dan pretensi memberi solusi. Dengan kata lain, peneliti acapkali kali mencari-cari konflik tadi tidak layak diangkat sebagai PTK.
Teknis Penulisan Kurang Ilmiah
Penulisan laporan PTK tidak sinkron menggunakan penulisan goresan pena lepas atau artikel bebas terkenal. Penulisan laporan PTK wajib ilmiah menggunakan memerhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah. Susunan kalimat yg kentara, penggunaan pertanda baca, sistematika pembahasan, & sebagainya telah diatur dalam standar penulisan karya ilmiah. Sekadar model, susunan kalimat wajib memakai aturan S-P-O-K; memakai catatan kaki, atau bentuk lain yang sudah diatur menjadi rujukan kutipan, sehingga penulis terhindar menurut pasal plagiasi. Tentu saja, hal yang tidak kalah pentingnya adalah sistematika penulisan mulai menurut judul, pengantar, daftar isi sampai epilog semuanya wajib tersusun secara sistematis.
Alur Logika Tidak Konsisten
Bangunan akal yg nir konsisten pada PTK akan sangat terlihat pada penyusunan laporannya. Inilah sebabnya, mengapa laporan PTK begitu mudah ditolak karena memang gampang dirunut alur logikanya. Bagaimana alur nalar yang konsisten tersebut? Alur logika yang konsisten merupakan adanya ketersinambungan antara akar masalah, rumusan perkara, rencana tindakan, metode yang digunakan, & output penelitian, yang seluruhnya terbatas hanya pada jawaban atas rumusan kasus yang sudah ditetapkan.
Sering terjadi merupakan pembahasan output penelitian dalam Bab IV nir sesuai dengan rumusan masalah dalam Bab I. Mungkin juga teori yg dipakai dalam Bab II kurang tepat & metode penelitiannya kurang jelas. Akibatnya, esensi penelitian justri tidak tercapai. Konsekuensinya, laporan penelitian terkesan seperti karangan atau pelukisan kelas semata. Seharusnya, pada menguraikan pembahasan, memang ditujukan secara khusus buat menjawab rumusan kasus yang telah ditetapkan pada Bab I.
Elfan mauludi
Kesalahan Umum Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kesalahan pada Bab I Pendahuluan
Kesalahan pada Penulisan Latar Belakang
Pada bagian latar belakang memuat tiga hal penting yaitu identifikasi kasus, menemukan akar perkara, dan ilham kreatif berupa tindakan yang ingin dikenakan pada anak didik. Identifikasi perkara adalah peneliti menggambarkan persoalan yang diangkat secara lebih jelasnya & mendalam. Konflik yg diangkat bukan pertarungan yg hanya 'dicari-cari', tetapi benar-benar masalah yg memang layak diangkat dalam PTK. Bahkan, perseteruan tadi dirasakan sang peneliti sangat penting & mendesak buat dilakukan.
Kesalaham umum yang terjadi adalah peneliti tidak memunculkan permasalahan yang benar-benar kritis dan mendesak untuk segera diatas. Terlebih lagi, jika pada bagian ini peneliti memulai deskripsi masalah dari hal-hal yang sangat umum dan tidak ada hubungannya dengan tema yang diangkat. Sekadar contoh, seorang guru hendak menyorot tentang rendahnya aktivitas belajar matematika, tetapi peneliti ini justru memulai mendeksripsikan persoalan ini dari UU SISDIKNAS. Ini jelas sia-sia dan menajadi tanda bahwa penelitian tidak fokus. Sebaiknya, diskripsi ini dimulai dengan langsung pada persoalan yang hendak diangkat secara tegas, pada, dan mendalam.
Setelah perseteruan berhasil dideskripsikan secara padat dan lebih jelasnya, maka wajib dilanjutkan menggunakan analisis penyebab pertarungan tersebut. Inilah yang disebut dengan menemukan akar masalah. Berbagai teori telah mengakui bahwa menemukan solusi yg akurat diperlukan temuan penyebab kasus secara sempurna pula.
Point terakhir pada bagian latar belakang yg harus dicantumkan merupakan inisiatif atau wangsit kreatif peneliti buat mengatasi perkara yang telah ditemukan akarnya tadi. Tentu, solusi yang dimaksud merupakan tindakan yang akan dikenakan pada murid. Yang tidak kalah pentingnya adalah, inspirasi tadi harus didukung sang teori yg relevan, sebagai akibatnya tindakannya mampu dibenarkan secara teoretis.
Kesalahan yg bianya terjadi dalam bagian ini adalah peneliti secara datang-tiba mengemukakan ilham atau gagasannya & ingin mengimplementasikannya pada kelas, tanpa alasan ilmiah yg mendukung. Bahkan, tak jarang kali peneliti tidak mencantumkan teori yang relevan buat mendukung inisiatif tadi. Hal ini bukan berarti PTK nir boleh berangkat dari inspirasi atau gagasan si peneliti, hanya saja apabila PTK berangkat menurut inspirasi atau gagasan peneliti hal tadi wajib didukung teori yang relevan sebagai akibatnya idenya tersebut bisa dibenarkan secara teoretis.
Kesalahan dalam Penulisan Rumusan Masalah
Sebagaimana disebutkan dalam bagian-bagian terdahulu, tekanan PTK lebih kepada proses, bukan semata-mata dalam hasil. Konsekuensinya, penulisan rumusan kasus tidak bisa tunggal (wajib lebih berdasarkan satu). Masalah wajib dirumuskan sedemikian rupa sehingga dengan menjawab rumusan kasus tadi, proses pembelajaran benar-benar meningkat. Satu hal yg nir boleh diabaikan adalah kalimat rumusan perkara wajib dimulai dengan istilah tanya (pada kalimat tanya) & didalamnya wajib masih ada metode mengatasi masalah yg digunakan.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penulisan rumusan masalah bersifat tunggal (hanya satu), itupun kalimatnya tidak lengkap. Contoh, PTK dengan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry Untuk Siswa Kelas V SD Yogyakarta", penulisan rumusan masalah dengan judul tersebut tidak boleh hanya satu, Berikut beberapa jenis contoh kalimat rumusan masalah.
satu, Apakah metode inquiry dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? Pertanyaan ini harus dijawab pada Bab 2, sekaligus untuk mempertegas bahwa penggunaan metode tersebut benar-benar ada teori yang melandasinya.
dua, Seberapa besar siswa termotivasi dalam belajar dengan menggunakan metode inquiry? Pertanyaan ini menguji apakah metode yang digunakan menarik bagi siswa atau tidak, membebani atau tidak, mudah atau tidak, dan lain sebagainya. Juga, pertanyaan tersebut harus dijawab pada bagian Bab IV.
tiga, Bagaimana penggunaan metode inquiry dalam meningkatkan aktivitas belajar matematika? Pertanyaan ini seolah-olah melanjutkan jawaban atau dua pertanyaan sebelumnya. Jadi, jika jawaban atau kedua pertanyaan di atas menunjukkan adanya peningkatan yang positif, maka pertanyaan ini berusaha untuk menerapkannya secara lebih baik.
Coba perhatikan rumusan masalah diatas! Masih ada pola yg sistematis ke arah indikasi peningkatan aktivitas belajar matematika secara jelas. Inilah yang dimaksud dengan rumusan perkara pada PTK nir boleh tunggal, namun wajib lebih berdasarkan satu.
Kesalahan dalam Penulisan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian harus merujuk pada rumusan masalah. Misalnya, jika rumusan masalahnya "Apakah metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?", maka tujuan dari kegiatan penelitian adalah "Ingin mengetahui apakah penerapan metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar kimia siswa". Demikian seterusnya sehingga tujuan penelitian selalu merujuk pada rumusan masalah.
Kesalahan umum yang terjadi merupakan peneliti menuliskan tujuan penelitian tidak sinkron menggunakan rumusan kasus, baik isinya juga jumlah poinnya. Tetapi, kesalahan dalam subbab ini sangat mini , karena tidak terlalu sulit buat mengurutkannya.
Kesalahan pada Penulisan Manfaat
Manfaat Penelitian yang ditulis pada laporan PTK adalah manfaat bagi anak didik. Oleh karenanya, hendaknya para peneliti nir melebih-lebihkan pada mencantumkan manfaat penelitiannya, hingga-sampai termasuk mencantumkan manfaat bagi pengajar & sekolah.
Kesalahan pada Bab II Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
Kesalahan pada bagian ini merupakan kesalahan yg paling poly dijumpai. Bahkan, kesulitan terbesar dalam PTK adalah dalam penyusunan bagian kajian teori & tinjauan pustaka ini. Bagian ini jua yang diklaim poly peneliti, khususnya guru, rawan dengan kesalahan. Berikut ini adalah liputan mengenai letak-letak kesalahan tadi.
Kesalahan pada Penulisan Kajian Teori
Pada prinsipnya, kajian teori berisi deskripsi dari aneka macam teori yg relevan dengan judul yg diangkat. Sedangkan kajian pustaka berisi aneka macam penelitian yg relevan dengan tema yang diusung. Sekadar model, PTK menggunakan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Bahasa Inggris menggunakan Metode Diskusi Kelompok secara Varatif buat Kelas IX SMA".
Teori yang seharusnya digunakan pada PTK tersebut setidaknya merupakan teori tentang remaja. Sebab, anak didik-siswai SMA termasuk menjadi golongan anak remaja. Poin-poin krusial menurut teori remaja yang perlu dikemukakan dalam bagian ini merupakan sifat-sifat remaja yg ingin mandiri, bebas berkreasi, ingin menerangkan kemampuannya, dan lain sebagainya. Dengan menyelidiki teori remaja ini, maka alasan mengapa metode yang digunakan merupakan metode diskusi akan sanggup dibenarkan secara teoretis, yakni karena kegiatan diskusi lebih sinkron dengan sifat-sifat remaja itu.
Kesalahan yg acapkali terjadi merupakan peneliti mengisi bagian ini menggunakan menerjemahkan judul penelitiannya. Misalnya, PTK menggunakan judul yg telah disebutkan sebelumnya. Kemudian, peneliti mengungkapkan kajian teori menggunakan 'menerjemahkan' judul, seperti Upaya, Peningkatan, Aktivitas, Belajar, Bahasa Inggris, Diskusi, dan seterusnya. Ini bukan kajian teori, melainkan terjemahan judul. Tentunya, hal ini merupakan suatu yg kurang sempurna dalam kegiatan penelitian.
Kesalahan lain yang pula tak jarang terjadi dalam aktivitas PTK adalah peneliti tidak mengungkapkan menggunakan kentara dukungan teoretis secara mendalam atas tindakan yang dikenanan kepada anak didik. Jika metode yang digunakan adalah diskusi secara variatif, maka peneliti wajib mencari teori yg berbicara tentang tanggung jawab anak didik, karena diskusi terkait erat dengan mengungkapkan pendapat secara bertanggung jawab sebagai akibatnya menggunakan hal ini diharapkan motivasi belajar akan meningkat. Pendek istilah, kajian teori harus memberitahuakn adanya interaksi sebab dan akibat antara tindakan yg dikenakan & efek yg ditimbulkan.
Kesalahan pada Penulisan Tinjauan Pustaka
Selain kajian teori, harus ada juga tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka berisi deskripsi menurut beberapa penelitian yang terkait atau relevan. Gunanya merupakan buat melihat posisi penelitian yg diangkat dengan penelitian-penelitian lain yang telah terdapat. Tetapi, hal ini bukan berarti perbandingan antar penelitian. Tinjauan pustaka hanya dimaksudkan buat memperlihatkan bahwa penelitian yg diangkat sahih-benar tidak sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya atau penelitian yg telah terdapat. Oleh karenanya, diakhir bagian ini, wajib ditegaskan kembali orisinalitas penelitian yang diangkat.
Kesalahan generik yang sering terjadi merupakan peneliti tidak mencantumkan hasil-output penelitian sebelumnya, sehingga nilai orisinalitas penelitian sebagai sangat berkurang apabila dibandingkan dengan penelitian lain yang sudah ada. Hal ini akan menciptakan poly pihak ragu, apakah penelitian yang diangkat orisinal atau tidak.
Kesalahan pada Bab III Metode Penelitian
Bab tiga, yang berisi tentang metode penelitian, juga tidak kalah rumitnya bila dibandingkan dengan kajian teori dan tinjauan pustaka pada bab dua. Bagian ini berisi langkah-langkah praktis yang disusun secara detail dan sistematis. Jadi, bagian ini bukan lagi sekadar membahas teori dan konsep penelitian, melainkan telah sampai pada perencanaan, pelaksanaan, observasi, hingga refleksi. Dengan kata lain, bagian ini berisi perencanaan siklus-siklus dalam penelitian, disamping metodologi secara umum.
Kesalahan yang seringkali terjadi adalah peneliti tidak menguraikan langkah-langkah tindakan secara mudah, namun masih sebatas memaparkan metode secara generik, seperti wawancara, angket, observasi, supervisi, dan sebagainya. Itu seluruh baru alat atau instrumen dari penelitian. Sedangkan yang dimaksud dalam bagian ini adalah penggunaan indera-alat tersebut sampai pada ranah simpel, disamping penjelasan mengenai alat-indera itu sendiri. Sekadar contoh, saat metode pengumpulan data menggunakan teknik angket, maka pada bagian ini harus menyebutkan kisi-kisi isi angket dengan jelas. Demikian jua dengan indikator-indikator yang ingin dicapai dalam penelitian. Semuanya harus terurai menggunakan rinci dan sistematis.
Kesalahan pada Bab IV Hasil Penelitian
Bagian empat adalah bagian inti penelitian yang berisi temuan-temuan penelitian. Temuan penelitian wajib terdeskripsikan secara kentara, bahkan jika memungkinkan data telah terdapat sebelum dilakukannya penelitian sehingga tampak kentara seberapa akbar temuan penelitian tersebut. Secara umum, bagian ini berupaya mendeskripsikan sedetail mungkin berdasarkan daur ke daur dan termin demi tahap penelitian serta pencapaian demi pencapaian yang diperoleh menurut kegiatan penelitian. Kemudian, menurut daur yang ada dianalisis seberapa akbar peningkatan aktivitas belajar yang bisa dicapai & hasil berdasarkan pencapaian tadi.
Kesalahan generik dalam bagian ini adalah, peneliti tidak menguraikan atau mendeskripsikan tindakan yang dilakukan sepanjang penelitian secara rinci, dan lebih jelasnya, mulai berdasarkan siklus pertama sampai terakhir. Akibatnya, hasil penelitian lebih seperti misalnya karangan yang kurang meyakinkan nilai kebenarannya. Wajar bila penelitian misalnya ini tertolak oleh tim penilai lantaran kurang akurat.
Elfan mauludi
Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Sikap atau etika, Menurut definisi dalam dunia psikologi adalah bentuk ringkasan evaluasi dari objek psikologis yang kemudian ditangkap kedalam dimensi atribut baik dan buruk, merugikan dan menguntungkan, menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta disukai dan tidak disukai (Ajzen, 2001). Sikap merupakan alternatif dari kecenderungan psikologis yang diekspresikan melalui evaluasi entitas tertentu melalui beberapa tingkatan suka atau tidak suka (Eagly & Chaiken, 1993). Sikap ilmiah atau etika ilmiah pada dunia pendidikan atau pendidikan sains adalah istilah yang mengacu kepada 'perilaku' pada kegiatan penelitian ilmiah (Osborne et al, 2003). Sikap ilmiah atau etika ilmiah adalah hal yang sama pentingnya dalam kegiatan penelitian ilmiah atau riset (Penelitian Tindakan Kelas).
Karya ilmiah mempunyai karakter tersendiri yang membedakannya dengan karya-karya tulis lain pada umumnya. Penulisannya pun harus memperhatikan etika-etika ilmiah yang harus ditaati agar isinya dapat meyakinkan semua pihak yang membacanya. Hal ini penting, karena etika ilmiah menyangkut hak, kewajiban, tanggung jawab, dan sejumlah aturan yang harus ditaati oleh penulis dan peneliti. Berikut ini akan dikemukakan sejumlah etika penulisan karya ilmiah, khususnya hasil penelitian.
Jujur
Jujur merupakan sikap individu untuk berkata atau bertindak sesuai dengan norma (kebenaran) dan aturan, individu yang berani berkata sebenarnya, individu yang berani berbuat benar, melaporkan bentuk perbuatan curang, berani memberikan kesaksian atau perbuatan salah ataupun curang, serta berani mengakui kesalahan (widodo, 2007). Jujur tidak hanya berlaku dalam tutur kata dan perbuatan, tetapi juga dalam penulisan karya ilmiah, termasuk penelitian tindakan kelas. Jujur dalam pengertian secara umum agak berbeda dengan jujur dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas, walaupun esensinya tetap sama. Yang dimaksud dengan jujur disini adalah jujur terhadap diri sendiri dan jujur terhadap pembaca secara luas atau masyarakat. Dalam pengertian yang lebih spesifik, jujur adalah mengemukakan data sesuai dengan aslinya tanpa ada rekayasa sedikitpun.
Data atau informasi yang ditulis dalam laporan penelitian harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tampilan data secara jelas dan detail, tanpa mengubah atau memodifikasi sedikit pun. Untuk meyakinkan pembaca atau untuk menjaga keaslian tampilan data tersebut, perlu dicantumkan sumber aslinya secara jelas. Sekadar contoh, jika peneliti menampilkan data berupa tabel yang berisi indeks prestasi siswa, maka peneliti wajib mencantumkan sumber data dalam tabel tersebut. Jika yang diambil dari buku, maka peneliti wajib mencantumkan nama pengarang buku, judul, penerbit, dan tahun terbit serta halamannya, jika perlu. Hal ini akan dibahas pada bagian pengutipan nanti.
Demikian pula ketika peneliti memaparkan data yang berupa pernyataan pendapat dari orang lain. Peneliti harus menyebut namanya, kapan wawancara atau pernyataan itu dikeluarkan, dalam acara apa, dan sebagainya. Sehingga, jika suatu saat ada pihak-pihak yang mempertanyakan keaslian data tersebut, maka peneliti bisa menjawabnya secara akurat.
Bagaimana jika penulis tidak mencantumkan sumbernya, padahal isi laporan penelitiannya sama persis dengan karya orang lain? Sikap ini menyalahi etika ilmiah. Logika ilmiah tidak sama dengan berpikir positif, dimana semua orang harus percaya kepada peneliti bahwa peneliti berperilaku jujur. Kejujuran peneliti didunia ilmiah harus dibuktikan dengan sumber-sumber yang jelas, sehingga dapat dilacak kebenarannya.
Dengan logika ilmiah yang demikian, maka orang yang hanya menjiplak karya orang lain dengan sendirinya telah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang peneliti yang tidak jujur. Termasuk dalam hal ini adalah kejujuran dalam mengutip, baik dalam mengutip secara tidak langsung ataupun penafsiran. Penafsiran data bisa jadi akurat, bisa jadi lemah bahkan salah jika sumber kutipan tidak asli. Kuatnya penafsiran data tergantung pada kapasitas peneliti itu sendiri dalam menganalisis data dan sumber informasi yang digunakan.
Peneliti yang tidak jujur akan menafsirkan data secara sembarangan, bahkan cenderung mengarahkannya kepada maksud tertentu untuk menutupi keterbatasan dan kekurangan dari penelitiannya. Oleh karena itu, jadilah peneliti yang jujur dengan mencantumkan sumber-sumber dari informasi yang dikutip. Semakin akurat data atau sumber informasi yang dijadikan rujukan, maka semakin ilmiah pula karya penelitian yang dilakukan. Sebaliknya, semakin sedikit referensi atau rujukan data yang digunakan, maka semakin lemah pula presisi dan akurasi data yang disajikan, hingga berakibat pada lemahnya hasil penelitian.
Objektif
Antara objektifitas dan kejujuran dalam penelitian sangat sulit dibedakan. Keduanya mempunyai makna yang hampir sama, yakni identifikasi dan interpretasi data tanpa menghiraukan keberhasilan penelitian. Objetifitas yang tinggi akan mengangkat harkat dan martabat peneliti yang bersangkutan, meskipun hasil penelitiannya tidak begitu berhasil. Sebaliknya, objektifitas yang rendah akan menghancurkan harkat dan martabat peneliti, walaupun menampilkan hasil yang baik.
Sekadar contoh, seorang guru melakukan PTK menampilkan indeks prestasi yang lebih tinggi dari sebenarnya hanya karena ia ingin dikatakan bahwa penelitiannya telah berhasil karena ia ingin dikatakan bahwa dari hasil penelitiannya tersebut bisa memperbaiki proses pembelajaran. Ini bukan lagi tidak objektif atau tidak jujur, tetapi telah memasuki tindakan penipuan. Hal ini jelas melanggar kode etik ilmiah dan etika penulisan laporan sebuah penelitian.
Kutipan
Sumber data dalam karya ilmiah adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya. Dalam istilah ilmiah, penyebutan sumber data ini dikenal dengan istilah 'kutipan ilmiah'. Jika penulis atau peneliti mengutip teori, data, atau pendapat orang lain baik secara langsung maupun hanya mengambil inti sarinya saja tanpa mencantumkan sumber atau pemilik data atau pendapat tersebut, maka penulis atau peneliti itu dapat dituntut secara hukum. Sebab, peneliti tersebut telah melakukan plagiasi, yakni pemalsuan data. Pemalsuan data dalam konteks ini tidak harus memalsukan dalam artian yang sesungguhnya, tetapi termasuk mengutip tanpa izin (mencantumkan sumbernya) yang dikutip.
Karena pengutipan dilakukan dalam konteks ilmiah, maka teknis penulisan kutipan tidak boleh sembarangan. Semuanya telah diatur oleh para ahli dibidangnya masing-masing, termasuk tentang cara mengutip karya ilmiah milik orang lain. Berikut dikemukakan beberapa contoh kutipan.
Footnote,
Secara harfiah, footnote berarti catatan kaki. Model pengutipan ini paling lengkap dibanding dengan model pengutipan yang lain, karena mencakup semua unsur sumber yang dikutip.
Bodynote,
Secara harfiah, bodynote berarti catatan perut. Artinya, pengutipan dilakukan ditengah-tengah pernyataan, pendapat, atau data yang dikutip. Karena letaknya ditengah, isi kutipanpun tidak sedetail footnote sebagaimana disebutkan diatas, tetapi cukup mencantumkan nama dan tahun.
Endnote,
Secarah harfiah, endnote berarti catatan akhir. Disebut catatan akhir karena pengutipan diletakkan pada bagian akhir setiap bab. Poin-poin kutipan sama persis seperti dalam footnote. Hanya saja, letaknya diakhir setiap bab.
Dengan mencermati beragam cara pengutipan yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dipahami bahwa yang terpenting dari sebuah pengutipan adalah kejujuran dan objektifitas untuk menunjukkan akurasi data. Antara model pengutipan yang satu dengan yang lain tidak ada perbedaan yang signifikan, karena semuanya akan dipertegas dalam daftar pustaka. Jadi, mengikuti model penulisan kutipan manapun boleh, tidak ada yang salah dari ketiga model diatas. Hanya saja, biasanya lembaga penyandang dana penelitian menentukan cara pengutipan secara tersendiri. Hal ini bukan berarti cara lain salah, tetapi hanya semata-mata untuk menyeragamkan saja.
Tata Tulis Ilmiah
Pikiran atau temuan penelitian harus disampaikan dalam bentuk tulisan. Karena tulisan ini mewakili seluruh pikiran kita, khususnya terkait dengan temuan penelitian, maka cara penulisannya pun harus menggunakan kata-kata yang tepat. sebab, tulisan akan dibaca banyak orang, bahkan sebagian orang mengikuti apa yang kita tulis.
Oleh karena itu, gunakan kata-kata yang tepat agar pembaca tidak 'tersesat' dalam memahami maksud dari apa yang kita tulis. Tulisan dapat diibaratkan seperti perahu yang berlayar ke tengah lautan tanpa kendali. Ia akan dibaca banyak orang, dipahami, dan diinterpretasikan banyak pihak. Penulis tidak lagi mampu mengendalikan pikiran dan pemahaman pembacanya. Ingat bahwa setiap kata yang kita tulis sering kali tidak mewakili apa yang kita maksud. Oleh karena itu, pilihlah kata yang benar-benar mewakili apa yang kita maksudkan. Kata-kata tersebut juga harus telah banyak dipahami orang lain, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kebingungan.
Pilihan Kata
Kata adalah bagian dari kalimat, kalimat adalah bagian dari paragraf, dan paragraf adalah bagian dari suatu bab, yang kemudian semuanya membentuk sebuah teks yang disebut karya tulis ilmiah. Bab demi bab dalam penelitian merupakan bagian dari keseluruhan hasil penelitian. Jika pilihan kata yang digunakan peneliti salah, maka maksud yang hendak disampaikan peneliti tidak akan tersampaikan secara maksimal. Jika kalimatnya saja keliru, maka salah pula paragraf yang akan dikembangkan. Jika paragraf yang dikembangkan keliru, maka salah pula bab demi bab dalam penyusunan karya ilmiah tersebut.
Pemilihan kata adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam penulisan ilmiah, termasuk laporan PTK, adalah suatu bentuk baku dari setiap kata yang dipergunakan. Dengan kata lain, etika pemilihan kata yang tepat dalam penulisan karya ilmiah termasuk juga laporan PTK adalah harus menggunakan kata yang baku sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Struktur Kalimat
Struktur kalimat dapat diartikan sebagai rangkaian kata yang mengandung makna. Kalimat yang baik mempunyai struk yang baik pula. Struktur kalimat adalah serangkaian kata yang terdiri dari S dan P.
Pengembangan Paragraf
Paragraf adalah kesatuan ide, gagasan, atau pemikiran. Paragraf bukan sekadar kumpulan kalimat yang tidak saling terkait. Paragraf adalah paduan ide, gagasan, dan pemikiran yang dikonstruksi secara utuh. Satu paragraf tidak harus terdiri dari beberapa kalimat. Satu paragraf boleh hanya terdiri dari satu kalimat saja. Hal ini tergantung pada luas atau sempitnya gagasan yang ingin dibagun didalamnya.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah upaya merangkai paragraf yang satu dengan paragraf yang lain secara berkesinambungan. Artinya, tidak ada ide atau gagasan yang meloncat atau terputus disepanjang tulisan. Inilah yang disebut dengan 'tulisan yang mengalir'. Tulisan yang mengalir adalah tulisan yang mampu menghubungkan ide yang satu dengan ide yang lain melalui rangkaian paragraf demi paragraf yang dirajut dari perpaduan kalimat secara utuh. Walaupun demikian tetap tidak boleh menghilangkah etika ilmiah dalam penulisan laporan penelitian.
DAFTAR RUJUKAN
Ajzen, I. (2001). Nature and operation of attitudes. Annual Review of Psychology, 52,27-58.
Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The psychology of attitudes. Orlando, FL: Harcourt.
Osborne, J., Simon, S., & Collins, S. (2003). Attitudes towards science: A review of the literature and its implications. International Journal of Science Education, 25, 1049-1079.
Widodo. (2007). Panduan pendidik pembentukan karakter bangsa. Jakarta: Arman-delta selaras.
elfan mauludi
Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kriteria Penilaian Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penilaian Tindakan kelas (PTK) sebagai karya ilmiah harus memenuhi kriteria KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang baik dan benar. Dalam Panduan Penysunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), sebagaimana yang disebutkan oleh Surhardjono dalam Dierjen Dikti (2005). Dengan mencermati pedoman penulisan karya ilmiah dari instansi masing-masing. Kiranya para guru dapat melakukan evaluasi dan koreksi terhadap laporan hasil penelitian yang dibuat apakah telah sesuai dengan pedoman atau belum.
DAFTAR RUJUKAN
Direktorat Jendral Pendidikan Tingi. 2005. Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan kelas (classroom Action Research) Tahun Anggaran 2006. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Elfan mauludi
Kriteria Penilaian Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal
Jurnal ilmiah adalah elemen sentral dalam memastikan integritas proses komunikasi ilmiah dan akuntabilitas pihak-pihak terkait, seperti pengarang, publisher, dan pembaca (Tandon, 2014). Jurnal ilmiah yang akan dipublikasikan harus di-review oleh para ahli terlebih dahulu sebelum jurnal tersebut dipublikasikan kepada komunitas ilmiah.
Jurnal umumnya terbit setiap enam bulan sekali atau setiap semester, tetapi mampu juga setiap bula sekali. Hingga waktu ini, artikel-artikel pada jurnal ilmiah memang masih didominasi oleh kalangan perguruan tinggi, sedangkan pengajar sekolah yg bisa memasukkan artikelnya dalam jurnal masih sangat sedikit. Walaupun demikian, nir menutup kemungkinan ada tulisan ilmiah karya pengajar, khususnya laporan output penelitian, yg bisa dipublikasikan melalui jurnal diperguruan tinggi.
Uraian berikut akan membahas mengenai cara penyuntingan laporan hasil penelitian agar mampu menjadi artikel ilmiah yg siap masuk jurnal. Hal krusial buat dikemukakan, mengingat karakter artikel dijurnal ilmiah sangat tidak sinkron menggunakan goresan pena resmi atau baku pada laporan penelitian. Dengan kata lain, laporan penelitian tidak bisa semata-mata pribadi masuk jurnal tanpa proses revisi atau penyuntingan naskah. Bagian revisi inilah yang tak jarang kali diabaikan oleh mereka yg ingin output penelitiannya dapat dipublikasikan secara luas melalui jurnal ilmiah.
Penulisan Jurnal Ilmiah
Jurnal ilmiah yg akan diterbitkan atau dipublikasin umumnya memiliki anggaran penulisan pada pembuatannya. Setiap lembaga atau instansi memiliki anggaran tata tulisnya masing-masing dalam pembuatan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, krusial dan pula perlu buat diperhatikan pada jurnal mana karya ilmiah anda akan dipublikasikan. Secara garis besar terdapat beberapa anggaran generik dalam pembuatan jurnal atau artikel ilmiah, tetapi ini bukanlah aturan standar mengingat setiap lembaga punya aturannya masing-masing pada membuat jurnal ilmiah. Aturan-aturan penulisan tadi merupakan menjadi berikut
satu, judul artikel ilmiah dalam jurnal, bagian judul dari jurnal atau artikel ilmiah bisa dibuat sama dengan hasil karya ilmiah hasil penelitian sebelumnya atau sesuai dengan judul PTK yang telah dibuat peneliti.
dua, daftar nama penulis pertama beserta daftar nama-nama lainnya yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah PTK.
tiga, abstrak merupakan bagian penting dari sebuah artikel atau jurnal ilmiah, karena abstrak adalah bagian yang paling banyak dibaca oleh para pembaca (Taback dan Krzyzanowska, 2008).
empat, Isi artikel pada jurnal ilmiah terdiri dari pendahuluan, metodologi penelitian, hasil penelitian, kesimpulan dan saran. Bagian tubuh atau bagian isi artikel berisi tentang penjelasan secara garis besar dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.Pendahuluan artikel berisi tentang latar belakang masalah yang dijadikan bahan untuk penelitian sesuai dengan rumusan masalah pada penelitian. Metodoligi artikel menjelaskan tentang metode-metode apa saja yang dilakukan pada saat penelitian beserta sarana prasarana dan urutan teknis dari mulai persiapan hingga hasil penelitian tercapat.Hasil penelitian berisi informasi berupa penjelasan statistik, atau narasi hasil penelitian yang dicapai sesuai dengan tujuan penelitian atau tidak.Kesimpulan dan saran artikel berisi informasi yang dapat ditarik atau disimpulkan dari hasil penelitian serta saran yang dapat dilakukan untuk penelitian selanjutnya.
lima, Daftar pustaka. Daftar pustaka, adalah bagian terakhir dari artikel atau jurnal ilmiah yang berisi daftar referensi baik itu kutipan ahli, gambar, atau informasi yang dipergunakan dalam penulisan artikel ilmiah (bukan kutipan dari hasil penelitian PTK sebelumnya). Penulisan daftar pustaka sesuai dengan ketentuan penulisan yang telah ditetapkan oleh instansi tempat publikasi jurnal.
Revisi Laporan Hasil Penelitian
Laporan PTK harus direvisi dengan teliti sebelum masuk jurnal. Revisi merupakan proses mempersiapkan naskah (termasuk laporan PTK) siap cetak atau siap terbit, menggunakan penekanan dalam segi ejaan, diksi, & struktur kalimat. Dalam proses ini, tidak menutup kemungkinan poly bagian menurut laporan yg harus diringkas atau bahkan dipotong sedemikian rupa menggunakan tanpa mengurangi kandungan berita didalamnya. Hal ini dikarenakan jumlah page dari sebuah artikel jurnal sangat terbatas, yaitu antara 25 hingga 35 page (atau pada kisaran angka tersebut). Apabila jumlah laporan PTK mencapai ratusan halaman, bahkan lebih, maka naskah tersebut harus dilakukan revisi sedemikian rupa, hingga memenuhi kriteria jumlah page jurnal yang diinginkan.
Peringkasan disana sini adalah bagian yg nir bisa dihindarkan dalam proses revisi. Pihak yang melakukan revisi acapkali kali wajib meringkas laporan hasil penelitian supaya muat masuk pada jurnal. Walaupun demikian, peneliti nir perlu risi akan hilang menurut laporan selesainya mengalami proses revisi. Proses revisi ini sebenarnya hanya bersifat pengemasan agar naskah siap cetak dengan kapasitas yg tersedia. Salah satu bentuk pengemasan tadi merupakan dengan peringkasan, pemotongan, dan penggabungan bagian-bagian laporan.
Setiap redaksi jurnal mempunyai tim verifikator tersendiri, dengan standar revisi yang berbeda-beda pula. Biasanya, mereka tidak bersedia menerima naskah hasil laporan PTK yang masih 'mentah', artinya laporan hasil PTK yang masih asli belum disentuh revisi. Oleh karena itu, akan lebih baik jika peneliti melakukan revisi sendiri terlebih dahulu terhadap laporan hasil penelitian sebelum memasukkannya kedalam lembaga penerbit jurnal. Peneliti yang lebih tahu sisi mana saja yang harus dicantumkan dan sisi mana saja yang bisa diringkas atau dihilangkan. Untuk bisa melakukannya dengan baik peneliti harus bisa menentukan bagian-bagian mana didalam laporan yang jika dipotong atau diringkas tidak akan mengurangi informasi atau data yang terkandung didalamnya. Menurut Tandon (2014) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat sebuah artikel ilmiah direvisi (review) untuk dipublikasi di jurnal ilmiah, yakni sebagai berikut:
Saat melakukanrevisi keseluruhan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apa isu penting yang ingin diselesaikan (dibahas) pada artikel yang kita buat?
dua, Orisinalitas dari karya ilmiah yang dibuat.
tiga, Masalah etika dalam membuat artikel. Apakah artikel yang dibuat tersebut menyinggung kepentingan suatu pihak atau tidak?
empat, Aturan dan gaya penulisan.
Saat melakukan revisi judul artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
apakah judul yang dibuat tersebut khusus & merepleksikan isi berdasarkan karya ilmiah secara holistik?
Saat melakukan revisi abstrak artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah penulisan abstrak sesuai dengan batasan jumlah kata yang telah ditentukan oleh jurnal? Sebuah abstrak biasanya hanya dibatasi sebanyak 200 kata dalam sebuah abstrak artikel ilmiah.
dua, Apakah isi abstrak sudah sesuai dengan isi artikel secara keseluruhan atau sudah mencerminkan bagian dari isi artikel.
tiga, Apakah terdapat perbedaan antara abstrak dan isi artikel baik itu makna yang ambigu atau pun juga pernyataan yang menyebabkan multitafsir dari abstrak terhadap bagian isi artikel penelitian.
empat, Apakah abtrak bisa dipahami tanpa perlu membaca isi artikel?
lima, apakah semua pertanyaan terkait abtrak artikel telah terjawab (dikoreksi) secara keseluruhan?
Saat melakukan revisi pendahuluan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah isi pendahuluan dibuat secara ringkas?
dua, Apakah tujuan dari penelitian sudah dimasukkan kedalam bagian pendahuluan?
tiga, Apakah landasan penelitian yang dibuat sesuai dengan PTK yang telah dibuat sebelumnya atau faktor kesenjangan apa (masalah apa) yang ingin diselesaikan pada penelitian ini?
empat, Apakah terdapat istilah-istilah atau kata-kata khusus pada bagian pendahuluan artikel?
lima, Hipotesis apa yang hendak diuji yang disampaikan pada bagian pendahuluan?
Saat melakukan revisi alat dan metodologi penelitian artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah rancangan metode penelitian sudah sesuai dan spesifik?
dua, Apakah perlu persetujuan dari lembaga tertentu dalam melakukan proses penelitian?
tiga, Apakah penggunaan metode dan alat telah dideskripsikan secara jelas dalam variabel dependen dan independen, serta analisis statistik yang dipergunakan? metode harus dinyatakan dengan cara yang memungkinkan untuk reviewer mengukur penelitian secara tepat.
empat, Jika penelitian telah menyediakan sebuah hipotesis, apakah metode yang dirancang sesuai untuk dipergunakan dalam pengujian hipotesis?
Saat melakukan revisi kesimpulan, tabel, dan gambar artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah kesimpulan sudah dijelaskan secara jelas?
dua, Apakah media presentasi yang digunakan selaras dengan metode penelitian yang dipakai?
tiga, Apakah penggunaan tabel, gambar, dan grafik sesuai dan memadai dalam artikel ilmiah?
empat, Apakah tabel dan gambar telah diberi label yang sesuai, dan apakah label tersebut memiliki makna atau arti terhadap isi artikel?
Saat melakukan revisi pembahasan atau kesimpulan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah isi pembahasan ringkas dan jelas?
dua, Apakah ada pernyataan yang jelas mengenai temuan hasil penelitian?
tiga, Apakah telah dijelaskan mengenai hasil temuan baru dalam penelitian?
empat, Apakah jelas bagaimana sebuah penelitian yang dilakukan cocok dan tidak cocok terhadap literatur yang ada saat ini?
lima, Bagaimakah hasil temuan yang berbeda dijelaskan?
enam, Adakah cacatan kelebihan dan kekurangan pada penelitian?
tujuh, Apakah kesimpulan yang dijelaskan sudah jelas dan ringkas mengenai implikasi dari hasil penelitian dan tahap yang akan dilakukan selanjutnya? jika ada!
delapan, Apakah penjelasan kesimpulan sudah jelas dan tidak berlebihan atau bahkan tidak pantas untuk ditambahkan pada hasil kesimpulan?
Saat melakukan revisi daftar pustaka artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah:
satu, Apakah daftar pustaka sudah mengikuti ketentuan format jurnal yang diikuti?
dua, Apakah daftar pustaka mengandung konten atau daftar referensi yang rusak?
tiga, Apakah semua daftar refensi yang relevan telah dimasukkan ke dalam daftar pustaka? atau adakah referensi yang terlupakan?
empat, Apakah point utama dari kutipan artikel sudah dikutip secara benar?
lima, Apakah terdapat daftar pustaka yang berlebihan daripada yang dibutuhkan?
DAFTAR RUJUKAN
Taback, N. Dan Krzyzanowska, M. K. (2008). A Survey of abstracts of high-impact clinical journals indicated most statistical methods presented are summary statistics. Elsevier: Journal of Clinical Epidemiology. Vol. 61: 277-281.
Tandon, R. (2014). How to review a scientific paper. Elsevier: Asian Journal of Psychiatry. Vol. 11: 124-127.
Elfan mauludi
Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal
Kesalahan EYD dalam PTK
EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan adalah sebuah pedoman kebahasaan yang sangat penting dalam proses keterampilan menulis. EYD merupakan aturan yang dijabarkan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan sesuai dengan Peraturan Menteri Nasional Republik RI No.46 Tahun 2009. Penulisan Karya ilmiah dalam hal ini adalah Penelitian Tindakan Kelas menggunakan Bahasa Indonesia yang baku sesuai dengan EYD. Sugihastuti (2007) berpendapat bahwa penulisan laporan penelitian harus menggunakan bahasa resmi atau bahasa baku, dalam hal ini bahasa indonesia. Penelitian yang dimaksud adalah bentuk-bentuk penelitian yang dilakukan didalam negeri, sedangkah untuk bentuk karya ilmiah yang diterbitkan diluar Indonesia penulisannya harus mengikuti aturan dari negara tempat diterbitkannya karya ilmiah tersebut.
Bentuk Kesalahan
Menguasai Keterampilan berbahasa artinya memehami tentang pemahaman ejaan, penguasaan penggunaan kata, penguasaan pemilihan kata, penguasaan susun kalimat efektif, dan penguasaan penyusunan paragraf secara utuh (Yulianto, 2003) dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang dipergunakan pada karya ilmiah merupakan jenis bahasa ragam tulis. Bahasa ragam tulis sangat berbeda dengan bentuk bahasa ragam lisan yang dibantu oleh sikap tubuh, isyarat, dan mimik atau ekspresi dari penutur manakala terjadi perbedaan tafsir atas pelisanan suatu hal atau maksud. Bahasa ragam tulis pada karya ilmiah haruslah dibuat secara jelas, lugas, dan komunikatif penyampaiannya, agar para pembaca bisa memahami isi yang terkandung didalam karya ilmiah (Ahmad et al, 2011).
Pedoman EYD, kamus bahasa Indonesia, dan tata bahasa adalah rambu yang digunakan dalam penulisan bahasa tulis baku untuk karya ilmiah dalam bahasa Indonesia. Ketepatan dalam penggunaan ejaan dapat dijadikan acuan sejauh mana tingkat pemahaman seseorang, serta bisa dijadikan ukuran tingkat 'melek bahasa' seseorang (Putrayasa, 2007). Melakukan kesalahan dalam berbahasa adalah hal yang wajar dalam proses belajar sebagai mana diungkapkan oleh Brown (2004). Dulay et al (1982) juga berpendapat bahwa seseoran tidak akan bisa mempelajari bahasa tanpa melakukan kesalahan yang sistematik. Corder (1985) meyakini bahwa setiap orang yang masih dalam proses belajar bahasa pasti pernah membuat kesalahan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempelajari kesalahan-kesalahan apa saja yang sering dilakukan dalam pembuat karya ilmiah, guna meminimalisir kesalahan dalam proses pembuatannya. Berikut ini akan dijelaskan bentuk-bentuk kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan karya ilmiah, berdasarkan hasil penelitian dari Turistiani (2013).
Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Turistiani (2013) menemukan bahwa kesalahan penggunaan ejaan antara lain terlihat pada kesalahan pemakaian tanda baca koma dan tanda baca titik, penggunaan huruf miring (italic), dan penggabungan kata (kata gabungan, kata imbuhan, kata depan, partikel kata, angka, dan lambang bilangan.
Kesalahan Pemakaian Tanda Koma (,)
Kesalahan pemakaian tanda koma (,) terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:
satu; Tanda koma tidak dipakai diantara unsur-unsur suatu perincian.
dua; Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
tiga; Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
empat; Tanda koma tidak dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang berada di awal kalimat.
lima; Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata 'tetapi' untuk 'melainkan'.
Enam,
Contoh kesalahan pemakaian tanda koma (,) dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; ... seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang.
perbaikan; seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang.
contoh dua; ... Bila atlet mengalami... ringan semisal terjadi robekan atau tarikan... diakibatkan maka pertolongan pertama adalah menggunakan metode RICE.
perbaikan; Bila atlet mengalami... ringan, semisal terjadi robekan atau tarikan ... diakibatkan, pertolongan pertama adalah menggunakan metode RICE.
contoh tiga; ... kelebihan latihan fisik, sehingga menyisakan radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh.
perbaikan; kelebihan latihan fisik sehingga menyisakan radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh.
contoh empat; ... Jadi manusia tidak bisa hidup tanpa gula.
perbaikan; Jadi, manusia tidak bisa hidup tanpa gula.
contoh lima; ... Olahraga ini menyehatkan tetapi jika berlebihan akan menurunkan sistem...
perbaikan; Olahraga ini menyehatkan, tetapi jika berlebihan akan menurunkan sistem...
contoh enam; ... kecepatan yang tinggi baik perorangan maupun ganda Anda mengejar shuttlecock yang...
perbaikan; ... kecepatan yang tinggi, baik perorangan maupun ganda, Anda mengejar shuttlecock yang...
Kesalahan Pemakaian Tanda Titik (.)
Kesalahan pemakaian tanda titik (.) terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:
satu; Tanda titik tidak dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
dua; Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar, padahal angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka dan huruf.
Contoh kesalahan pemakaian tanda titik (.) dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; ... yang telah diperoleh dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
perbaikan; ... yang telah diperoleh dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
contoh dua; 6.1. Kram Otot
perbaikan; 6.1 Kram Otot
Kesalahan Pemakaian Huruf
Kesalahan pemakaian huruf terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:
satu; Huruf miring (italic) tidak dipakai untuk menuliskan kata, nama ilmiah, atau ungkapan asing kecuali untuk istilah asing yang telah disesuaikan ejaannya.
dua; Huruf miring (italic) tidak dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat yang dikutip dalam tulisan.
Contoh kesalahan pemakaian huruf dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; Warming up adalah aktifitas yang berisi gerakan-gerakan...
perbaikan; Warming up adalah aktifitas yang berisi gerakan-gerakan...
contoh dua; ..., perlu juga melakukan peregangan atau streching.
perbaikan; ..., perlu juga melakukan peregangan atau streching.
contoh tiga; Direktur gizi. 1992. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bhatara.
perbaikan; Direktur gizi. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bhatara.
contoh empat; Erman. 2007. Dasar-dasar Biokimia Olahraga. Surabaya: Unesa Unipress.
perbaikan; Erman. 2007. Dasar-dasar Biokimia Olahraga. Surabaya: Unesa Unipress.
Kesalahan Penulisan Kata
Kesalahan penulisan kata ditemukan pada penulisan gabungan kata, kata imbuhan, kata depan, partikel, angka, dan lambang bilangan. Kesalahan-kesalahan penulisan dijelaskan sebagai berikut.
Kesalahan Penulisan Gabungan Kata
Kesalahan penulisan gabungan kata terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;
satu; Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata tidak dituliskan serangkai.
dua; Jika gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, hanya muncul dalam kombinasi, unsur itu harus dituliskan serangkai dengan unsur lainnya (Arifin dan Tasai, 2009).
Contoh kesalahan penulisan gabungan kata dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; Kandungan buah kersen lebih baik dari pada minuman isotonik yang saat ini beredar di pasaran.
perbaikan; Kandungan buah kerseh lebih baik daripada minuman isotonik yang saat ini beredar di pasaran.
contoh dua; ..., sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang olah raga dan kesehatan ini dengan baik.
perbaikan; ..., sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang olahraga dan kesehatan ini dengan baik.
contoh tiga; Karakter cabang olahraga bola yang lebih banyak terjadi kontak fisik antar pemain,...
perbaikan; karakter cabang olahraga sepak bola yang lebih banyak terjadi kontak fisik antarpemain,...
Kesalahan Penulisan Kata Berimbuhan
Kesalahan penulisan kata berimbuhan terjadi karena tidak menuliskan serangkaian kata dasar yang mendapatkan imbuhan berupa awalan dan atau akhiran.
Contoh kesalahan penulisan kata berimbuhan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; ...aktifitas yang di lakukan oleh seseorang terutama yang memang pekerjaan...
perbaikan; ...aktifitas yang dilakukan oleh seseorang terutama yang memang pekerjaan...
contoh dua; Efek yang di timbulkan bila isotonik dikonsumsi secara berlebihan...
perbaikan; Efek yang ditimbulkan bila isotonik dikonsumsi secara berlebihan...
Kesalahan Penulisan Kata Depan
Kesalahan penulisan kata depan terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;
satu; Menuliskan kata depan di secara tidak terpisah dari kata yang mengikutinya.
dua; Menuliskan kata dengan ke secara tidak terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh kesalahan penulisan kata depan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; Diluarjaringan tubuh kekurangan pasokan glukosa dapat terhambat...
perbaikan; Di luar jaringan tubuh kekurangan pasokan glukosa karena terhambat...
contoh dua; Hal ini didukung dengan intensifnya informasi yang beredar di masyarakat.
perbaikan; Hal ini didukung dengan intensifnya informasi yang beredar dimasyarakat.
contoh tiga; Setelah itu endapan yang ada pada jus tersebut naik dengan sendirinya kepermukaanair.
perbaikan; Setelah itu endapat yang ada pada jus tersebut naik dengan sendirinya ke permukaan air.
contoh empat; ...kondisi anak, dan dapat mendorong ke arah perubahan tersebut.
perbaikan; ...kondisi anak, dan dapat mendorong kearah perubahan tersebut.
Kesalahan Penulisan Partikel
Kesalahan penulisan partikel terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;
satu; Menuliskan partikel pun secara tidak terpisah dari kata yang mendahuluinya.
dua; Menuliskan partikel per secara tidak terpisah dari kata yang mendahuluinya atau mengikutinya.
Contoh kesalahan penulisan pertikel dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; Selain bugar, merekapun telah melakukan tindakan preventif.
perbaikan; Selain bugar, mereka pun telah melakukan tindakan preventif.
contoh dua; Hal ini mengakibatkan ekspresi air juga bertambah, perasaan hauspun bertambah.
perbaikan; Hal ini mengakibatkan ekspresi air juga bertambah, perasaan haus pun bertambah;
contoh tiga; Dengan demikian siapapun yang berolahraga dengan baik dan benar...
perbaikan; Dengan demikian siapa pun yang berolahraga dengan baik dan benar...
contoh empat; Harus diakui, apapun cabang olahraganya pasti berpotensi cedera.
perbaikan; Harus diakui, apa pun cabang olahraganya pasti berpotensi cedera.
contoh lima; ... secara teratur tiga hingga lima kali perminggu pada hari yang ...
perbaikan; ... secara teratur tiga hingga lima kali per minggu pada hari yang ...
Kesalahan Penulisan Lambang Bilangan
kesalahan penulisan lambang bilangan terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;
satu; Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak ditulis dengan huruf atau kata.
dua; Lambang bilangan pada awal kalimat tidak ditulis dengan huruf.
Contoh kesalahan penulisan lambang bilangan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;
contoh satu; ...dan penggantian glikogen memerlukan waktu lebih dari 2 hari.
perbaikan; ...dan penggantian glikogen memerlukan waktu lebih dari dua hari.
contoh dua; ...bila dilakukan 3 kali dalam seminggu dalam jangka waktu 1 bulan.
perbaikan; ...bila dilakukan tiga kali dalam seminggu dalam jangka waktu satu bulan.
contoh tiga; ..., gerakan tersebut dilakukan sampai dengan 20 hitungan.
perbaikan; ..., gerakan tersebut dilakukan sampai dengan dua puluh hitungan.
contoh empat; ...selama 6 bulan akan menghasilkan peningkatan kemampuan optimal.
perbaikan; ...selama enam bulan akan menghasilkan peningkatan kemampuan optimal.
contoh lima; 4 prinsip penanganan cedera otot yang benar.
perbaikan; empat prinsip penanganan cedera otot yang benar.
contoh enam; 6 langkah mudah mencegah cedera bermain bulu tangkis.
perbaikan; enam langkah mudah mencegah cedera bermain bulu tangkis.
contoh tujuh; 3 macam perubahan kardiovaskular yang dialami oleh organ tubuh...
perbaikan; tiga macam perubahan kardiovaskular yang dialami oleh organ tubuh...
DAFTAR RUJUKAN
Arifin, E. Z., dan Tasai, S. A. (2009). Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Ahmadi, dkk. (2011). Menulis Ilmiah: Buku Ajar MPK Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa University Press.
Brown, H. D. (2004). Principles of Language Teaching and Learning. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Corder, S. P. (1982). Error Analysis and Interlanguage. Oxford: OxfordUniversity Press.
Putra, I. B. (2007). Kalimat Efektif. Bandung: PT Refika Aditama.
Turistiani, T. D. (2013). Fitur Kesalahan Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan dalam Makalah Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya. Vol. 01, No. 01,
Sugihastuti. (2007). Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yulianto, B. (2003). Segi-segi Penulisan Laporan. Surabaya: Makalah Seminar Nasional Penulisan Karya Ilmiah.
Elfan mauludi
Kesalahan EYD dalam PTK
Ketentuan Teknis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Disamping memakai pilihan kata yg sempurna & ejaan yg disempurnakan (EYD), masih ada anggaran-anggaran teknis lain yang juga harus dipatuhi pada penulisan karya ilmiah. Seluruh anggaran ini baiknya ditaati agar laporan lebih sistematis sehingga sanggup memperkuat alur logika ilmiah yg kita bagun. Terlebih lagi, anggaran teknis ini dapat memberi kesan teratur & enak dibaca pada laporan yang kita susun. Beberapa aturan teknis tadi diantaranya:
Sistem Penomoran
Suatu tulisan yg diatur kedalam angka-nomor yg berurutan akan lebih mudah dicerna & dipahami alur logikanya. Sebenarnya, fungsi ini juga bisa digantikan menggunakan penggunaan pertanda penghubung, sub-topik, atau kalimat pengantar. Tetapi, ketiganya hanya efektif buat digunakan pada goresan pena-goresan pena pendek dan tidak efektif buat goresan pena panjang, misalnya karya ilmiah yg mencapai ratusan halaman. Oleh karenanya, dipilih sistematika penomoran karena sistem ini mampu menjadi penghubung antarkalimat & paragraf, dan bagian demi bagian yang tanpa batas panjangnya.
Untuk detail, peneliti bisa melihat berbagai jenis artikel ilmiah yg dimuat dijurnal ilmiah atau teks ajar, yang biasanya masih ada contoh-contoh sistematika penomoran yang disusun secara sistematis menjadi penghubung antar goresan pena, wangsit, & gagasan. Jika masih ada buku atau jurnal yg nir menggunakan sistem penomoran, niscaya terdapat sistem lain yg dipakai penulis buat menghubungkan bagian-bagian dari tulisannya. Berikut ini dikemukakan tentang jenis-jenis sistematika penomoran tersebut.
Penomoran dengan Huruf
Pada biasanya, sistematika penomoran dengan menggunakan alfabet adalah angka bab menggunakan huruf kapital, angka subbab menggunakan alfabet nir modal & nomor subbab memakai huruf latin nir modal yg ditambah dengan indikasi kurung separuh misalnya model yang diperlihatkan dalam gambar 1.
| Gambar 1 sistem penomoran huruf |
Penomoran dengan Angka
Sedikit tidak selaras menggunakan sistem penomoran dengan huruf, sistem penomoran menggunakan angka semuanya memakai nomor , baik judul bab maupun subbab, bahkan sub subbab yang mengikutinya. Cara penulisannya sama menggunakan sistem penomoran yg telah dijelaskan sebelumnya misalnya diperlihatkan pada gambar 2.
| Gambar 2 sistem penomoran angka |
Penomoran Gabungan
Bagaimana menggunakan sistem penomoran dengan taraf kedetailan yg lebih kaku? Dalam hal ini, kita bisa memakai sistem penomoran secara gabungan, yakni menggunakan huruf & nomor sekaligus. Poin ini akan membahas adonan antara sistem penomoran alfabet & sistem penomoran nomor .
Model penomoran secara kombinasi merupakan campuran antara sistem penomoran dengan huruf dan angka. Angka Romawi digunakan menjadi angka bab, alfabet latin digunakan sebagai nomor subbab, sedangkan nomor dipakai sebagai sub berdasarkan subbab. Model penomoran secara kombinasi ini lebih variatif dan memiliki jangkauan sub-subbab yg lebih lebih jelasnya, tanpa mengurangi daya paham pembacanya. Untuk lebih jelasnya, lihat model gambar 3.
| Gambar 3 sistem penomoran gabungan |
Penulisan karya ilmiah, termasuk PTK, sudah ditentukan standar bakunya, yakni sinkron menggunakan ketentuan dari forum atau instansi masing-masing yang menerbitkan karya ilmiah. Selain huruf & jarak antarbaris, kertas yang dipakai buat mencetak karya ilmiah juga sudah dipengaruhi sesuai dengan baku & ketentuannya masing-masing.
Elfan mauludi
Ketentuan Teknis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Pengertian Diseminasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Menurut Rogers (1983), diseminasi adalah sebuah proses yang interaktif terkait mengenaipenyampaian inovasi, dimana akhir dari proses ini adalah perubahan pandangan atau pola pikir serta tindakan dari segala aspek yang terlibat didalam proses. Proses Diseminasi adalah kegiatan yang tidak berjalan satu arah tetapi ini merupakan proses yang melibatkan aksi dan reaksi yang saling memengaruhi pola pikir komunitas sasaran, namun bisa juga berdampak terhadap individu yang membawakan inovasi itu sendiri sebagaimana yang disampaikan oleh Sarnawi (2011). Pada proses diseminasi unsur-unsur penting yang terlibat serta memengaruhi tingkat keberhasilannya diantaranya adalah inovasi yang dipresentasikan, media presentasi yang dipergunakan, waktu presentasi, serta pihak mana saja yang terlibat dalam proses tersebut.
Hakikat dari diseminasi adalah penyebarluasan, tentu hal yang dimaksud dengan menyebarluaskan disini adalah menyebarluaskan temuan yang telah dihasilkan dalam proses PTK. Walaupun demikian, diseminasi tidak semata menyebarluaskan hasil PTK saja. Diseminasi hasil penelitian dimaksudkan agar pihak-pihak yang berkepentingan yaitu para guru mata pelajaran mendapatkan masukan informasi baru, kemudian mempelajarinya, mencobanya, dan mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran dikelas. Sekadar contoh, seorang guru yang melakukan PTK dengan mengangkat tema "Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry". Dalam penelitian itu ditemukan, bahwa metode inquiry dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hingga 70%. Dengan melihat hasil penelitian tersebut, tentu para guru matematika yang lain akan tertarik untuk mencobanya. Jika percobaannya berhasil, maka mereka akan menerapkan hasil temuan PTK tersebut dikelasnya masing-masing. Dari sini, diharapkan para guru tersebut turut terpanggil untuk lebih mengembangkan atau melanjutkan penelitian terdahulu dengan melakukan PTK yang lebih mendalam. Inilah hakikat dari diseminasi penelitian yang sesungguhnya.
Disamping itu, prosesi diseminasi itu sendiri pula mengandung pelajaran yg sangat berharga, baik bagi pengajar yg melakukan PTK juga guru lain yang menjadi peserta diseminasi. Bagi guru yang melakukan PTK, beliau akan menerima banyak sekali pertanyaan, sanggahan, ketidaksetujuan, bahkan kritik saat sedang mendiseminasikan output penelitiannya. Tidak hanya itu, pengajar atau peneliti jua akan mendapatkan apresiasi atas output penelitiannya.
DAFTAR RUJUKAN
Rogers, E. M. (1983). Diffusion of Innovations. Third Edition, The Free Press, New York.
Sarwani, M., Jama, E., Subagyono, K., Sirnawati, E., dan Hanifah, V. W. (2011). Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) Dissemination: Innovative Idea on Locally Specific Technology Transfer. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol. 09, No. 01.
Elfan mauludi
Pengertian Diseminasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Tahap Refleksi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Tahap refleksi PTK adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang telah dilakukan. Refleksi juga sering disebut dengan istilah 'memantul'. Dalam hal ini, peneliti seolah memantulkan pengalamannya kesebuah cermin, sehingga tampak jelas penglihatannya, baik kelemahan atau kelebihannya.
Jika kegiatan Penelitian Tindakan Kelas dilakukan seseorang diri atau individu (guru), maka kegiatan refleksi yang dilakukan lebih tepatnya disebut menjadi proses penilaian diri. Evaluasi diri adalah kegiatan buat melakukan instrospkesi terhadap diri sendiri. Guru harus bisa amanah (objektif) terhadap dirinya sendiri prihal pengakuan atas kelebihan ataupun kelemahannya pada proses penelitian. Dalam hal ini, guru atau peneliti pula harus mengakui sisi-sisi mana yg sudah sinkron & sisi mana yg masih belum sesuai atau wajib diperbaiki.
Kegiatan refleksi diri atau pula evaluasi diri dapat dilaksanakan ketika proses tindakan telah selesai dilaksanakan (peneltian). Refleksi diri atau evaluasi diri akan lebih efektif jika peneliti melakukan secara langsung pada hal diskusi atau pengamatan terhadap kolaborator atau pengamat. Namun demikian, Jika pada prosesnya (PTK) dilakukan oleh individu (sendiri) secara berdikari, maka kegiatan reflesi yg paling efektif buat dialkukan adalah dengan 'berdialog menggunakan diri sendiri' guna mengetahui sisi-sisi atau sudut pandang pembelajaran yang harus dipertahankan ataupun pula perlu dievaluasi.
Elfan mauludi
Tahap Refleksi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Di bagian ini, kita akan membahas mengenai hakikat Penelitian Tindakan Kelas (selanjutnya dianggap PTK) secara utuh. Keutuhan PTK dapat dipahami dari segi pengertian, prinsip-prinsip umum, karakter, alur logika, contoh-model PTK, sasaran atau objek, syarat bagi pengajar yang ingin melakukan PTK, dan prosedur melakukan PTK. Dengan memahami semua komponen tadi dibutuhkan para guru bisa memahami & melaksanakan PTK secara utuh. Setelah Anda membaca bagian berdasarkan artikel ini, diperlukan anda bisa memahami segala hal yg berkaitain dengan PTK, terutama segi-segi yg telah disebutkan diatas.
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Secara harfiah, penelitian tindakan kelas berasal dari makna yang disadur dalam bahasa Inggris, yaitu Classroom Action Research, yang artinya action research (penelitian dengan tindakan) yang kegiatannya dilakukan dalam 'kelas'. berikut ini pendapat dari beberapa para hali terkait PTK.
Arikunto
Seorang ahli dibidang ini, yaitu Arikunto (2006) menjelaskan pengertian PTK secara lebih sistematis, yaitu:
pertama, Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan atau metodologi tertentu untuk menemukan data akurat tentang hal-hal yang dapat meningkatkan mutu objek yang diamati.
kedua, Tindakan adalah gerakan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Dalam Penelitian Tindakan Kelas atau PTK, gerakan atau aktivitas ini lebih dikenal dengan sebutan siklus kegiatan atau siklus aktivitas peserta didik.
ketiga, Kelas adalah tempat dimana terdapat sekelompok peserta didik yang dalam waktu bersamaan menerima pelajaran dari guru yang sama.
Dari ketiga pengertian diatas, yakni penelitian, tindakan, dan kelas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tetapi, selama ini telah terjadi kesalahpahaman tentang PTK, khususnya pada istilah 'kelas' dan 'tindakan'. 'Kelas' dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipahami sebagai ruang tertutup yang dilengkapi dengan meja, kursi, dan papan tulis, serta menjadi rangkaian dari bangunan gedung sebuah sekolah. Padahal, yang dimaksud 'kelas' dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah 'tempat' dimana terjadi proses belajar mengajar. Tempat belum tentu berbentuk kelas, tetapi sebaliknya, kelas (dalam artian fisik) pasti merupakan tempat.
Nah, yang sebagai inti merupakan tempatnya, bukan kelasnya. Jadi, apabila disebuah tempat atau lapangan, taman, atau emperan tempat tinggal terdapat sekelompok siswa yg sedang belajar bersama & diajar sang seorang pengajar, maka tempat tersebut telah memenuhi kriteria buat dianggap sebagai 'kelas'. Dengan demikian, PTK dapat dilakukan diberbagai loka (nir wajib didalam ruang kelas) asalkan disitu terdapat sekelompok siswa yang belajar beserta dan diajar sang pengajar yg sama jua.
Secara lebih tegas, Suharsimi menyebutkan bahwa akan lebih baik jika PTK disebut dengan istilah Penelitian TIndakan (PT) saja, tanpa mencantumkan 'kelas' didalamnya, sebab PTK juga dapat dilakukan diluar kelas. Bayangkan jika PTK dilaksanakan oleh guru olahraga, guru kimia, guru praktik yang menggunakan kegiatan dilapangan, laboratorium, dan bengkel sebagai kelasnya?
Kesalahpahaman lain terkait PTK merupakan pada istilah 'tindakan'. Selama ini, tindakan yang dilakukan guru banyak yg 'keliru kaprah'. Artinya, banyak pengajar yg merasa bahwa dirinya sudah melakukan tindakan yg tepat buat memperbaiki proses pembelajaran, padahal sesungguhnya mereka belum 'bertindak' atau 'melakukan tindakan'. Misalnya, pengajar memberi tugas eksklusif pada anak didik, nir hanya satu tugas melainkan tugas pada jumlah yg poly. Kemudian, pengajar menuliskan apa yg sudah beliau lakukan tadi (yakni, memberi tugas kepada peserta didik) dalam laporan PTK. Inilah bentuk 'keliru kaprah' terhadap pemahaman kata 'tindakan' dalam PTK.
Bagaimana cara tahu 'tindakan' yg benar dalam PTK? Cara yang benar yaitu guru melaporkan tindakan yang dilakukan anak didik atau siswa saat mereka melaksanakan tugas yang diberikan oleh pengajar. Jadi, tindakan peserta didiklah yang dilaporkan, bukan instruksi guru yang disampaikan pada siswa yg menjadi laporan output tindakan dalam PTK.
Contoh, guru memberi tugas kepada siswa untuk mengukur luas bangunan jajar genjang. Maka, hal yang dilaporkan guru dalam PTK adalah aktivitas peserta didik dalam menjumlahkan, mengalikan, ataupun juga berbagai kegiatan ukuran yang tertera dalam jajargenjang tersebut, serta sejauh mana kemampuan mereka dalam menggunakan rumus-rumus jajar genjang.
Dengan demikian, proses belajar peserta didik dan hasil belajar yg mereka dapatkan dapat diketahui secara realitas, sehingga guru pula dapat 'mendiagnosis' berlangsungnya proses pembelajaran. Dari sini, pengajar bisa melihat kelemahan dan kelebihan pola pembelajaran yang sudah diterapkan selama ini dan bisa mengambil tindakan-tindakan selanjutnya buat menaikkan kemampuan siswa. Inilah tujuan berdasarkan PTK yg sesungguhnya, yakni peningkatan proses belajar siswa atau peserta didik.
Carr dan Kemmis
Sedikit berbeda dengan pengertian sebelumnya, Carr dan Kemmis (McNiff,991) mendefinisikan PTK sebagai berikut:
"Action research is a form of self-refective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of their own social or educational practices, their understanding of these practices, and the situation (and institution) in which the practices are carried out."
Berdasarkan pengertian diatas, kita bisa menggarisbawahi beberapa poin penting tentang PTK, yakni:
pertama, PTK adalah suatu bentuk inquiry atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
kedua, PTK dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, peserta didik, atau kepala sekolah.
ketiga, PTK dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
keempat, Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik belajar mengajar, memperbaiki pemahaman dari praktik belajar mengajar, serta memperbaiki situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilakukan.
Dari keempat ide pokok diatas, dapat disimpulkan bahwa PTK adalah pencermatan yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat didalamnya (guru, peserta didik, kepala sekolah) dengan menggunakan metode refleksi diri dan bertujuan untuk melakukan perbaikan diberbagai aspek pembelajaran. Dengan kata lain, PTK adalah percermatan yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki profesinya sebagai guru, sehingga hasil belajar peserta didik terus meningkat.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi, et al. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Mc. Niff, J. (1992). Action Research Principles and Practice. Kent: Mackays Of Chathan PLC.
Elfan mauludi
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Prinsip adalah pegangan, dan keliru satu fungsi prinsip atau pegangan merupakan buat panduan. Dalam PTK, terdapat sejumlah prinsip atau panduan yg harus dipenuhi. Hal ini dimaksudkan supaya proses PTK bisa mencapai hasil yg maksimum. Prinsip-prinsip PTK tersebut merupakan sebagai berikut:
satu, PTK dilakukan dalam lingkungan pembelajaran yang alamiah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang alamiah. Artinya, kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dilakukan tanpa adanya perubahan pada situasi dan jadwal belajar para siswa. Dengan kata lain, PTK tidak perlu dilakukan dalam situasi yang khusus, apalagi sampai mengubah kebiasaan pembelajaran yang normal. Mengapa demikian? Karena, dengan mengubah situasi pembelajaran demi kepentingan PTK, justru bertentangan dengan tujuan PTK itu sendiri, yakni memperbaiki proses pembelajaran. Jika ketika dilakukan PTK proses pembelajarannya diubah sedemikian rupa, kemudian setelah itu kembali seperti semula, maka sebaik apa pun hasil PTK tidak akan bisa diterapkan dikelas. Perubahan pola pembelajaran tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, PTK harus dilakukan dalam konteks pembelajaran yang alamiah (sebagaimana aslinya) tanpa ada perubahan pola dari pembelajaran.
Inilah sebabnya, mengapa PTK wajib dilakukan sang seorang guru. Hanya pengajar saja yg bersentuhan eksklusif menggunakan kelas dalam jangka ketika yang cukup usang, bukan yg lian, termasuk ketua sekolah sekalipun. Mungkin, ketua sekolah pula sesekali bersentuhan pribadi dengan kelas, namun hal tersebut frekuensinya sangat terbatas. Oleh karena itu, bagi kepala sekolah yg ingin melakukan PTK sebaiknya penelitian itu diubah menjadi Penelitian Tindakan Sekolah (Perguruan Tinggi Swasta), bukan lagi PTK. Perbedaannya, bila PTK dilakukan oleh guru demi pengadakan perbaikan pembelajaran dikelasnya, maka PTS dilakukan sang ketua sekolah terhadap segala hal yang berkaitan dengan sekolah yang dipimpinnya.
dua, Adanya inisiatif dari guru untuk memperbaiki proses pembelajaran
Guru harus peka terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam proses pembelajaran. Bahkan, guru dituntut untuk lebih peka terhadap prestasi belajar siswa-siswanya. Kepekaan dan sensitivitas inilah yang akan mendorong naluri guru untuk memperbaiki proses pembelajaran. PTK merupakan salah satu jalan bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian, sesungguhnya PTK itu bukan paksaan yang menambah pekerjaan guru, melainkan justru berangkat dari keingingan sang guru yang tulus dan ikhlas sebagai panggilan jiwa.
Hal serupa juga sanggup ada waktu pengajar berkenaan melakukan refleksi diri atau penilaian terhadap keluarnya berbagai masalah dikelas yang ia ampu. Jika pengajar mau bersikap amanah dan objektif, maka ia akan berasumsi bahwa banyak sekali masalah yang timbul mampu disebabkan sang faktor internal & eksternal. Faktor eksternal bisa berupa kurangnya fasilitas, sarana prasarana, keluarga, ekonomi, atau faktor lain. Sedangkan faktor internal bisa datang dari siswa atau guru itu sendiri.
Ketiga pengajar merasa dirinya mempunyai andil atas munculnya banyak sekali problem yang timbul dikelas, maka secara naluriah dia akan melakukan PTK menggunakan sebaik-baiknya. Jadi, PTK bukanlah adalah paksaan menurut pemerintah menjadi kondisi promosi, namun lebih didasari atas pencerahan diri yang pada akan kekurangan pada dirinya dan perasaan tanggung jawan untuk memperbaikinya.
Atas dasar ini, guru hendaknya memiliki sensitifitas & kepekaan yg tinggi terhadap proses pembelajaran dikelas. Jangan hingga pengajar bersikap masa terbelakang terhadap rendahnya output belajar anak didik, padahal dirinya adalah bagian berdasarkan dilema tersebut. Apabila terdapat guru yg merasa bahwa pada proses belajar mengajar nir terdapat yang perlu diperbaiki lagi, maka pengajar tadi seharusnya sebagai bagian yg harus diperbaiki terlebih dahulu.
Berangkat berdasarkan kesadaran akan segala kekurangan tadi, pengajar wajib mempunyai inisiatif buat memperbaiki keadaan. Kemudian, inisiatif tersebut hendaknya diuji coba secara terus menerus, sehingga memperoleh hasil yang aporisma. Jika inisiatif yg satu gagal diuji coba, maka pengajar wajib memiliki inisiatif lain sebelum kemudian mengujicobakannya berulang kali. Demikian seterusnya, sehingga guru terus menerus melakukan pemugaran melalui PTK.
tiga, Menggunakan analisis SWOT sebagai dasar tindakan
Menurut Arikunto (2006), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yaitu strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunity (kesempatan), dan threat (ancaman). Keempat unsur tersebut hendaknya digunakan dalam analisis terhadap guru yang melakukan tindakan maupun siswa yang dikenai tindakan. Dengan demikian, PTK hanya bisa berjalan jika terdapat kesesuaian antara guru dan siswa. Artinya, inisiatif guru untuk memperbaiki pembelajaran tidak akan berjalan jika siswa tidak mampu mempraktikkannya. Sebaliknya, inisiatif guru harus berangkat dari kemampuan siswa yang dihadapinya. Untuk menemukan inisiatif yang siap diuji coba inilah guru harus menggunakan analisis SWOT sebagai pijakan berpikir.
Sebelum mengidentifikasi yang lain, guru harus mengidentifikasi dirinya sendiri, khususnya dari sudut pandang dua unsur, yakni strength (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan). Setelah itu, identifikasi dari sudut pandang yang sama juga harus dilakukan kepada anak didik. Sedangkan dua unsur yang lain yaitu opportunity (kesempatan) dan threat (ancaman), digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang tidak ada dalam diri guru dan siswa. Artinya, sebelum guru melakukan tindakan atau uji coba, dia harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan dan menghindari ancaman yang dapat mengganggu jalannya perbaikan atau uji coba dalam penelitian. Hal ini berkaitan dengan prinsip pertama, yakni PTK harus berjalan secara alamiah dan tidak boleh menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.
empat, Adanya upaya yang nyata atau konkret
Ini buat memperbaiki pembelajaran yang didasarkan dalam analisis SWOT, sebagaimana disebutkan sebelumnya, harus berupa 'tindakan' secara nyata, nir cukup menggunakan sekadar asa apalagi angan-angan. Tindakan tadi wajib sahih-sahih konkret & dapat ditetapkan. Inilah keliru satu ciri spesial PTK, yakni adanya 'tindakan' secara praktis dan nyata.
Tindakan secara nyata sebagai manifestasi inisiatif & analisis SWOT tadi akan menyatu kedalam sistem pembelajaran yang lebih baik. Tentunya, sebuah ini siatif baru yang diaktualisasikan pada proses pembelajaran perlu mendapat bantuan menurut berbagai unsur yg dilibatkan secara sistematis, mulai menurut wahana dan prasarana pendukung, membarui jadwal pelajaran, gaya mengajar yg tidak selaras, dan unsur-unsur terkait lainnya.
lima, Merencanakan dengan SMART
Masih mengutip Suharsimi Arikunto (2006), bahwa dalam PTK harus direncanakan dengan SMART. Tetapi yang dimaksud dengan SMART disini bukanlah 'cerdas' sebagaimana arti harfiah dari kata tersebut dalam bahasa Inggris. SMART yang dimaksudkan Suharsimi Arikunto adalah akronim yang masing-masing hurufnya memiliki makna:
S : Spesific, khususnya, tidak terlalu umum atau luas. Misalnya, melakukan penelitian untuk pelajaran bahasa Indonesia, tetapi hanya satu aspek saja, seperti bicara, menulis, atau mendengar. Dengan demikian, hasilnya jelas karena spesifik.
M : Manageable, dapat dikelola dan dilaksanakan. Artinya, lokasi mudah dijangkau, data dapat dikumpulkan dengan mudah, hasilnya dapat dikoreksi, dan tidak menyulitkan dalam proses penelitiannya.
A : Acceptable, dapat diterima lingkungan atau achievable (dapat dijangkau, dicapai). Artinya, mudah dilakukan, tidak berbelit dan hal-hal lain yang membuat siswa kesulitan atas tindakan yang dilakukan guru dalam penelitian.
R : Realistic, operasional, tidak diluar jangkauan. Artinya, tidak menyimpang dari tujuan, serta hasilnya bermanfaat baik bagi guru maupun siswa.
T : Time-Bound, diikat oleh waktu atau terencana. Ada schedule (jadwal) dan target yang jelas kapan dilaksanakan, kapan dapat diselesaikan, dan kapan dapat dilihat hasilnya. Misalnya, kegiatan PTK tertentu akan dilaksanakan selama tiga bulan, empat bulan, lima bulan, dan seterusnya. Sehingga, jika PTK ini akan dilanjutkan ada batasan yang jelas.
Dari kelima unsur SMART yang dijelaskan sebelumnya, terdapat satu unsur yang mempunyai keterkaitan langsung antara peneliti (guru) dengan subjek yang diteliti atau yang akan dikenai tindakan (siswa). Unsur tersebut adalah acceptable (dapat diterima lingkungan) atau achievable (dapat dijangkau atau dapat dicapai).
Berdasarkan prinsip SMART, khususnya acceptable, maka sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, guru harus mengomunikasikannya dengan siswa. apa inisiatif guru, apa yang akan dilakukan, dan apa perangkat yang akan digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk mencari kesepakatan apakah siswa mampu melakukan inisiatif guru atau tidak. Kesepakan ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri siswa untuk sepenuhnya melakukan apa yang akan dilakukan guru dalam penelitian.
Dengan demikian, tidak akan terdapat tindakan sewenang-wenang menurut pengajar terhadap siswanya, meskipun tujuannya adalah baik, yakni ingin memperbaiki output belajar murid. Kemampuan anak didik juga harus dipertimbangkan, apakah penelitian tindakan yang akan dilakukan memberatkan murid atau nir. Walaupun demikian, harus diwaspadai kemungkinan adanya rekayasa diantara pengajar & murid. Artinya, tidak boleh terdapat konvensi sebelumnya antara pengajar & murid untuk merekayasa supaya penelitian berhasil menggunakan baik. Penelitian harus berlangsung secara alamiah.
Untuk menghindari hal ini terjadi, berikut adalah terdapat beberapa kaidah yg dapat dipakai buat mencari konvensi antara guru & murid pada PTK. Sekali lagi, konvensi yg dimaksud adalah kesepakatan yang tanpa paksaan dan nir memberatkan galat satu pihak.
Inisiatif harus kreatif dan tindakan harus cemerlang
Peneliti (guru) wajib menerangkan pada peserta didik bahwa ia memiliki inisiatif yang sahih-sahih kreatif untuk dituangkan dalam pola pembelajaran melalui sejumlah tindakan. Selanjutnya, guru harus meyakinkan anak didik bahwa inisiatif & tindakan tersebut benar-sahih dapat menaikkan proses belajar aktif siswa, sehingga hasilnya dapat ditingkatkan.
Apabila langkah-langkah yang telah dijelaskan sebelumnya dicermati terlalu memberatkan guru, maka peneliti (pengajar) minimal harus mengupayakan adanya inisiatif dan tindakan yg beru & tidak sinkron menggunakan tindakan-tindakan pada pembelajaran sebelumnya. Sebab, jika masih sama, maka hasilnya sudah mampu ditebak sebelumnya, yakni jua sama.
Misalnya, bila pada penyelesaian pekerjaan rumah (PR) tahap evaluasinya hanya dilakukan menggunakan saling tuka PR antarsiswa, maka dalam PTK pengerjaannya dilakukan menggunakan pembahasan beserta para murid. Caranya, pengajar menawarkan kepada siswa yg bersedia dan mampu mengerjakan soal tersebut, lalu memintanya buat mengerjakan soal dipapan tulis. Apabila nir terdapat yang bersedia, maka pengajar boleh memilih secara rambang salah satu siswanya buat mengerjakan didepan. Dalam konteks ini, pengajar wajib membantu murid waktu ia sedang mengerjakan soal didepan, sebagai akibatnya tidak terkesan hal ini menjadi sebuah sanksi. Inisiatif dan tindakan adalah sesuatu yg jauh lebih baik daripada pengajar yg mengerjakan sendiri dan murid menilik output pekerjaan temannya. Sebab, siswa terlibat aktif dalam pembelajaran & intensitas belajarnya pun semakin tinggi. Guru jua mampu memikirkan inisiatif-inisiatif lain yg dapat dituangkan dalam bentuk tindakan dalam pola-pola pembelajaran lainnya.
Oleh karena itu, idealnya merupakan, pengajar harus memiliki inisiatif dan kreatifitas buat mampu mengatasi konflik yg ada dikelas, kemudian merogoh tindakan brilian yg dituangkan pada pola-pola pembelajaran. Apabila hal ini dapat dibuktikan pada seluruh murid, maka mampu dipastikan anak didik akan menyepakati apa pun yang akan dilakukan pengajar. Kesepakatan ini akan mendorong keluarnya rasa tanggung jawa dalam diri siswa, sebagai akibatnya sukses atau tidaknya penelitian menjadi tanggung jawab bersama, tanpa ada rekayasa didalamnya.
Terpusat pada proses
Tekanan primer dalam PTK merupakan tindakan yg didasari inisiatif kreatif melalui metode SWOT, sebagaimana dijelaskan sebelumny. Artinya, tekanan utama pada PTK adalah proses (tindakan), bukan output menurut tindakan itu sendiri. Sebab, bila prosesnya baik, maka hasilnya kemungkinan akan baik juga. Dengan demikian, hal yg perlu diperhatikan bukanlah menurut output yang baik (dalam penelitian), melainkan dalam tahapan prosesnya apakah berjalan menggunakan baik atau nir. Dan bagaimanakan proses penelitian yg baik itu? Proses atau tindakan yg baik merupakan dengan mencermati keseluruhan tindakan yang tertuang dalam metode mengajar, apakah sudah sinkron menggunakan kemampuan anak atau belum, lancar atau tidak, memberatkan atau nir, memotivasi belajar atau nir, apa kendala yang muncul, dan aspek-aspek lain yg ada berkaitan menggunakan proses pembelajaran.
Bagaimana cara peneliti atau pengajar bisa mengetahui bahwa suatu tindakan (proses), yang dilakukan itu telah berhasil? Pengajar wajib membuat format pengamatan yg terdiri berdasarkan butir-buah penilaian yg sangat rinci. Pengamatan ini akan lebih objektif apabila yang melakukan adalah para kolaborator. Jika hal ini tidak memungkinkan, mampu meminta tolong guru sejawat atau bahkan seorang siswanya yang sudah dilatih terlebih dahulu sebelumnya.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi, et al. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Elfan mauludi
Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)