Loading Website

Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Sikap atau etika, Menurut definisi dalam dunia psikologi adalah bentuk ringkasan evaluasi dari objek psikologis yang kemudian ditangkap kedalam dimensi atribut baik dan buruk, merugikan dan menguntungkan, menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta disukai dan tidak disukai (Ajzen, 2001). Sikap merupakan alternatif dari kecenderungan psikologis yang diekspresikan melalui evaluasi entitas tertentu melalui beberapa tingkatan suka atau tidak suka (Eagly & Chaiken, 1993). Sikap ilmiah atau etika ilmiah pada dunia pendidikan atau pendidikan sains adalah istilah yang mengacu kepada 'perilaku' pada kegiatan penelitian ilmiah (Osborne et al, 2003). Sikap ilmiah atau etika ilmiah adalah hal yang sama pentingnya dalam kegiatan penelitian ilmiah atau riset (Penelitian Tindakan Kelas).

Karya ilmiah mempunyai karakter tersendiri yang membedakannya dengan karya-karya tulis lain pada umumnya. Penulisannya pun harus memperhatikan etika-etika ilmiah yang harus ditaati agar isinya dapat meyakinkan semua pihak yang membacanya. Hal ini penting, karena etika ilmiah menyangkut hak, kewajiban, tanggung jawab, dan sejumlah aturan yang harus ditaati oleh penulis dan peneliti. Berikut ini akan dikemukakan sejumlah etika penulisan karya ilmiah, khususnya hasil penelitian.

Jujur

Jujur merupakan sikap individu untuk berkata atau bertindak sesuai dengan norma (kebenaran) dan aturan, individu yang berani berkata sebenarnya, individu yang berani berbuat benar, melaporkan bentuk perbuatan curang, berani memberikan kesaksian atau perbuatan salah ataupun curang, serta berani mengakui kesalahan (widodo, 2007). Jujur tidak hanya berlaku dalam tutur kata dan perbuatan, tetapi juga dalam penulisan karya ilmiah, termasuk penelitian tindakan kelas. Jujur dalam pengertian secara umum agak berbeda dengan jujur dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas, walaupun esensinya tetap sama. Yang dimaksud dengan jujur disini adalah jujur terhadap diri sendiri dan jujur terhadap pembaca secara luas atau masyarakat. Dalam pengertian yang lebih spesifik, jujur adalah mengemukakan data sesuai dengan aslinya tanpa ada rekayasa sedikitpun.

Data atau informasi yang ditulis dalam laporan penelitian harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tampilan data secara jelas dan detail, tanpa mengubah atau memodifikasi sedikit pun. Untuk meyakinkan pembaca atau untuk menjaga keaslian tampilan data tersebut, perlu dicantumkan sumber aslinya secara jelas. Sekadar contoh, jika peneliti menampilkan data berupa tabel yang berisi indeks prestasi siswa, maka peneliti wajib mencantumkan sumber data dalam tabel tersebut. Jika yang diambil dari buku, maka peneliti wajib mencantumkan nama pengarang buku, judul, penerbit, dan tahun terbit serta halamannya, jika perlu. Hal ini akan dibahas pada bagian pengutipan nanti.

Demikian pula ketika peneliti memaparkan data yang berupa pernyataan pendapat dari orang lain. Peneliti harus menyebut namanya, kapan wawancara atau pernyataan itu dikeluarkan, dalam acara apa, dan sebagainya. Sehingga, jika suatu saat ada pihak-pihak yang mempertanyakan keaslian data tersebut, maka peneliti bisa menjawabnya secara akurat.

Bagaimana jika penulis tidak mencantumkan sumbernya, padahal isi laporan penelitiannya sama persis dengan karya orang lain? Sikap ini menyalahi etika ilmiah. Logika ilmiah tidak sama dengan berpikir positif, dimana semua orang harus percaya kepada peneliti bahwa peneliti berperilaku jujur. Kejujuran peneliti didunia ilmiah harus dibuktikan dengan sumber-sumber yang jelas, sehingga dapat dilacak kebenarannya.

Dengan logika ilmiah yang demikian, maka orang yang hanya menjiplak karya orang lain dengan sendirinya telah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang peneliti yang tidak jujur. Termasuk dalam hal ini adalah kejujuran dalam mengutip, baik dalam mengutip secara tidak langsung ataupun penafsiran. Penafsiran data bisa jadi akurat, bisa jadi lemah bahkan salah jika sumber kutipan tidak asli. Kuatnya penafsiran data tergantung pada kapasitas peneliti itu sendiri dalam menganalisis data dan sumber informasi yang digunakan.

Peneliti yang tidak jujur akan menafsirkan data secara sembarangan, bahkan cenderung mengarahkannya kepada maksud tertentu untuk menutupi keterbatasan dan kekurangan dari penelitiannya. Oleh karena itu, jadilah peneliti yang jujur dengan mencantumkan sumber-sumber dari informasi yang dikutip. Semakin akurat data atau sumber informasi yang dijadikan rujukan, maka semakin ilmiah pula karya penelitian yang dilakukan. Sebaliknya, semakin sedikit referensi atau rujukan data yang digunakan, maka semakin lemah pula presisi dan akurasi data yang disajikan, hingga berakibat pada lemahnya hasil penelitian.

Objektif

Antara objektifitas dan kejujuran dalam penelitian sangat sulit dibedakan. Keduanya mempunyai makna yang hampir sama, yakni identifikasi dan interpretasi data tanpa menghiraukan keberhasilan penelitian. Objetifitas yang tinggi akan mengangkat harkat dan martabat peneliti yang bersangkutan, meskipun hasil penelitiannya tidak begitu berhasil. Sebaliknya, objektifitas yang rendah akan menghancurkan harkat dan martabat peneliti, walaupun menampilkan hasil yang baik.

Sekadar contoh, seorang guru melakukan PTK menampilkan indeks prestasi yang lebih tinggi dari sebenarnya hanya karena ia ingin dikatakan bahwa penelitiannya telah berhasil karena ia ingin dikatakan bahwa dari hasil penelitiannya tersebut bisa memperbaiki proses pembelajaran. Ini bukan lagi tidak objektif atau tidak jujur, tetapi telah memasuki tindakan penipuan. Hal ini jelas melanggar kode etik ilmiah dan etika penulisan laporan sebuah penelitian.

Kutipan

Sumber data dalam karya ilmiah adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya. Dalam istilah ilmiah, penyebutan sumber data ini dikenal dengan istilah 'kutipan ilmiah'. Jika penulis atau peneliti mengutip teori, data, atau pendapat orang lain baik secara langsung maupun hanya mengambil inti sarinya saja tanpa mencantumkan sumber atau pemilik data atau pendapat tersebut, maka penulis atau peneliti itu dapat dituntut secara hukum. Sebab, peneliti tersebut telah melakukan plagiasi, yakni pemalsuan data. Pemalsuan data dalam konteks ini tidak harus memalsukan dalam artian yang sesungguhnya, tetapi termasuk mengutip tanpa izin (mencantumkan sumbernya) yang dikutip.

Karena pengutipan dilakukan dalam konteks ilmiah, maka teknis penulisan kutipan tidak boleh sembarangan. Semuanya telah diatur oleh para ahli dibidangnya masing-masing, termasuk tentang cara mengutip karya ilmiah milik orang lain. Berikut dikemukakan beberapa contoh kutipan.

Footnote,

Secara harfiah, footnote berarti catatan kaki. Model pengutipan ini paling lengkap dibanding dengan model pengutipan yang lain, karena mencakup semua unsur sumber yang dikutip.

Bodynote,

Secara harfiah, bodynote berarti catatan perut. Artinya, pengutipan dilakukan ditengah-tengah pernyataan, pendapat, atau data yang dikutip. Karena letaknya ditengah, isi kutipanpun tidak sedetail footnote sebagaimana disebutkan diatas, tetapi cukup mencantumkan nama dan tahun.

Endnote,

Secarah harfiah, endnote berarti catatan akhir. Disebut catatan akhir karena pengutipan diletakkan pada bagian akhir setiap bab. Poin-poin kutipan sama persis seperti dalam footnote. Hanya saja, letaknya diakhir setiap bab.

Dengan mencermati beragam cara pengutipan yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dipahami bahwa yang terpenting dari sebuah pengutipan adalah kejujuran dan objektifitas untuk menunjukkan akurasi data. Antara model pengutipan yang satu dengan yang lain tidak ada perbedaan yang signifikan, karena semuanya akan dipertegas dalam daftar pustaka. Jadi, mengikuti model penulisan kutipan manapun boleh, tidak ada yang salah dari ketiga model diatas. Hanya saja, biasanya lembaga penyandang dana penelitian menentukan cara pengutipan secara tersendiri. Hal ini bukan berarti cara lain salah, tetapi hanya semata-mata untuk menyeragamkan saja.

Tata Tulis Ilmiah

Pikiran atau temuan penelitian harus disampaikan dalam bentuk tulisan. Karena tulisan ini mewakili seluruh pikiran kita, khususnya terkait dengan temuan penelitian, maka cara penulisannya pun harus menggunakan kata-kata yang tepat. sebab, tulisan akan dibaca banyak orang, bahkan sebagian orang mengikuti apa yang kita tulis.

Oleh karena itu, gunakan kata-kata yang tepat agar pembaca tidak 'tersesat' dalam memahami maksud dari apa yang kita tulis. Tulisan dapat diibaratkan seperti perahu yang berlayar ke tengah lautan tanpa kendali. Ia akan dibaca banyak orang, dipahami, dan diinterpretasikan banyak pihak. Penulis tidak lagi mampu mengendalikan pikiran dan pemahaman pembacanya. Ingat bahwa setiap kata yang kita tulis sering kali tidak mewakili apa yang kita maksud. Oleh karena itu, pilihlah kata yang benar-benar mewakili apa yang kita maksudkan. Kata-kata tersebut juga harus telah banyak dipahami orang lain, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kebingungan.

Pilihan Kata

Kata adalah bagian dari kalimat, kalimat adalah bagian dari paragraf, dan paragraf adalah bagian dari suatu bab, yang kemudian semuanya membentuk sebuah teks yang disebut karya tulis ilmiah. Bab demi bab dalam penelitian merupakan bagian dari keseluruhan hasil penelitian. Jika pilihan kata yang digunakan peneliti salah, maka maksud yang hendak disampaikan peneliti tidak akan tersampaikan secara maksimal. Jika kalimatnya saja keliru, maka salah pula paragraf yang akan dikembangkan. Jika paragraf yang dikembangkan keliru, maka salah pula bab demi bab dalam penyusunan karya ilmiah tersebut.

Pemilihan kata adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam penulisan ilmiah, termasuk laporan PTK, adalah suatu bentuk baku dari setiap kata yang dipergunakan. Dengan kata lain, etika pemilihan kata yang tepat dalam penulisan karya ilmiah termasuk juga laporan PTK adalah harus menggunakan kata yang baku sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Struktur Kalimat

Struktur kalimat dapat diartikan sebagai rangkaian kata yang mengandung makna. Kalimat yang baik mempunyai struk yang baik pula. Struktur kalimat adalah serangkaian kata yang terdiri dari S dan P.

Pengembangan Paragraf

Paragraf adalah kesatuan ide, gagasan, atau pemikiran. Paragraf bukan sekadar kumpulan kalimat yang tidak saling terkait. Paragraf adalah paduan ide, gagasan, dan pemikiran yang dikonstruksi secara utuh. Satu paragraf tidak harus terdiri dari beberapa kalimat. Satu paragraf boleh hanya terdiri dari satu kalimat saja. Hal ini tergantung pada luas atau sempitnya gagasan yang ingin dibagun didalamnya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah upaya merangkai paragraf yang satu dengan paragraf yang lain secara berkesinambungan. Artinya, tidak ada ide atau gagasan yang meloncat atau terputus disepanjang tulisan. Inilah yang disebut dengan 'tulisan yang mengalir'. Tulisan yang mengalir adalah tulisan yang mampu menghubungkan ide yang satu dengan ide yang lain melalui rangkaian paragraf demi paragraf yang dirajut dari perpaduan kalimat secara utuh. Walaupun demikian tetap tidak boleh menghilangkah etika ilmiah dalam penulisan laporan penelitian.

DAFTAR RUJUKAN

Ajzen, I. (2001). Nature and operation of attitudes. Annual Review of Psychology, 52,27-58.

Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The psychology of attitudes. Orlando, FL: Harcourt.

Osborne, J., Simon, S., & Collins, S. (2003). Attitudes towards science: A review of the literature and its implications. International Journal of Science Education, 25, 1049-1079.

Widodo. (2007). Panduan pendidik pembentukan karakter bangsa. Jakarta: Arman-delta selaras.

elfan mauludi

Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kriteria Penilaian Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penilaian Tindakan kelas (PTK) sebagai karya ilmiah harus memenuhi kriteria KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang baik dan benar. Dalam Panduan Penysunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), sebagaimana yang disebutkan oleh Surhardjono dalam Dierjen Dikti (2005). Dengan mencermati pedoman penulisan karya ilmiah dari instansi masing-masing. Kiranya para guru dapat melakukan evaluasi dan koreksi terhadap laporan hasil penelitian yang dibuat apakah telah sesuai dengan pedoman atau belum.

DAFTAR RUJUKAN

Direktorat Jendral Pendidikan Tingi. 2005. Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan kelas (classroom Action Research) Tahun Anggaran 2006. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Elfan mauludi

Kriteria Penilaian Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal

Jurnal ilmiah adalah elemen sentral dalam memastikan integritas proses komunikasi ilmiah dan akuntabilitas pihak-pihak terkait, seperti pengarang, publisher, dan pembaca (Tandon, 2014). Jurnal ilmiah yang akan dipublikasikan harus di-review oleh para ahli terlebih dahulu sebelum jurnal tersebut dipublikasikan kepada komunitas ilmiah.

Jurnal umumnya terbit setiap enam bulan sekali atau setiap semester, tetapi mampu juga setiap bula sekali. Hingga waktu ini, artikel-artikel pada jurnal ilmiah memang masih didominasi oleh kalangan perguruan tinggi, sedangkan pengajar sekolah yg bisa memasukkan artikelnya dalam jurnal masih sangat sedikit. Walaupun demikian, nir menutup kemungkinan ada tulisan ilmiah karya pengajar, khususnya laporan output penelitian, yg bisa dipublikasikan melalui jurnal diperguruan tinggi.

Uraian berikut akan membahas mengenai cara penyuntingan laporan hasil penelitian agar mampu menjadi artikel ilmiah yg siap masuk jurnal. Hal krusial buat dikemukakan, mengingat karakter artikel dijurnal ilmiah sangat tidak sinkron menggunakan goresan pena resmi atau baku pada laporan penelitian. Dengan kata lain, laporan penelitian tidak bisa semata-mata pribadi masuk jurnal tanpa proses revisi atau penyuntingan naskah. Bagian revisi inilah yang tak jarang kali diabaikan oleh mereka yg ingin output penelitiannya dapat dipublikasikan secara luas melalui jurnal ilmiah.

Penulisan Jurnal Ilmiah

Jurnal ilmiah yg akan diterbitkan atau dipublikasin umumnya memiliki anggaran penulisan pada pembuatannya. Setiap lembaga atau instansi memiliki anggaran tata tulisnya masing-masing dalam pembuatan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, krusial dan pula perlu buat diperhatikan pada jurnal mana karya ilmiah anda akan dipublikasikan. Secara garis besar terdapat beberapa anggaran generik dalam pembuatan jurnal atau artikel ilmiah, tetapi ini bukanlah aturan standar mengingat setiap lembaga punya aturannya masing-masing pada membuat jurnal ilmiah. Aturan-aturan penulisan tadi merupakan menjadi berikut

satu, judul artikel ilmiah dalam jurnal, bagian judul dari jurnal atau artikel ilmiah bisa dibuat sama dengan hasil karya ilmiah hasil penelitian sebelumnya atau sesuai dengan judul PTK yang telah dibuat peneliti.

dua, daftar nama penulis pertama beserta daftar nama-nama lainnya yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah PTK.

tiga, abstrak merupakan bagian penting dari sebuah artikel atau jurnal ilmiah, karena abstrak adalah bagian yang paling banyak dibaca oleh para pembaca (Taback dan Krzyzanowska, 2008).

empat, Isi artikel pada jurnal ilmiah terdiri dari pendahuluan, metodologi penelitian, hasil penelitian, kesimpulan dan saran. Bagian tubuh atau bagian isi artikel berisi tentang penjelasan secara garis besar dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.Pendahuluan artikel berisi tentang latar belakang masalah yang dijadikan bahan untuk penelitian sesuai dengan rumusan masalah pada penelitian. Metodoligi artikel menjelaskan tentang metode-metode apa saja yang dilakukan pada saat penelitian beserta sarana prasarana dan urutan teknis dari mulai persiapan hingga hasil penelitian tercapat.Hasil penelitian berisi informasi berupa penjelasan statistik, atau narasi hasil penelitian yang dicapai sesuai dengan tujuan penelitian atau tidak.Kesimpulan dan saran artikel berisi informasi yang dapat ditarik atau disimpulkan dari hasil penelitian serta saran yang dapat dilakukan untuk penelitian selanjutnya.

lima, Daftar pustaka. Daftar pustaka, adalah bagian terakhir dari artikel atau jurnal ilmiah yang berisi daftar referensi baik itu kutipan ahli, gambar, atau informasi yang dipergunakan dalam penulisan artikel ilmiah (bukan kutipan dari hasil penelitian PTK sebelumnya). Penulisan daftar pustaka sesuai dengan ketentuan penulisan yang telah ditetapkan oleh instansi tempat publikasi jurnal.

Revisi Laporan Hasil Penelitian

Laporan PTK harus direvisi dengan teliti sebelum masuk jurnal. Revisi merupakan proses mempersiapkan naskah (termasuk laporan PTK) siap cetak atau siap terbit, menggunakan penekanan dalam segi ejaan, diksi, & struktur kalimat. Dalam proses ini, tidak menutup kemungkinan poly bagian menurut laporan yg harus diringkas atau bahkan dipotong sedemikian rupa menggunakan tanpa mengurangi kandungan berita didalamnya. Hal ini dikarenakan jumlah page dari sebuah artikel jurnal sangat terbatas, yaitu antara 25 hingga 35 page (atau pada kisaran angka tersebut). Apabila jumlah laporan PTK mencapai ratusan halaman, bahkan lebih, maka naskah tersebut harus dilakukan revisi sedemikian rupa, hingga memenuhi kriteria jumlah page jurnal yang diinginkan.

Peringkasan disana sini adalah bagian yg nir bisa dihindarkan dalam proses revisi. Pihak yang melakukan revisi acapkali kali wajib meringkas laporan hasil penelitian supaya muat masuk pada jurnal. Walaupun demikian, peneliti nir perlu risi akan hilang menurut laporan selesainya mengalami proses revisi. Proses revisi ini sebenarnya hanya bersifat pengemasan agar naskah siap cetak dengan kapasitas yg tersedia. Salah satu bentuk pengemasan tadi merupakan dengan peringkasan, pemotongan, dan penggabungan bagian-bagian laporan.

Setiap redaksi jurnal mempunyai tim verifikator tersendiri, dengan standar revisi yang berbeda-beda pula. Biasanya, mereka tidak bersedia menerima naskah hasil laporan PTK yang masih 'mentah', artinya laporan hasil PTK yang masih asli belum disentuh revisi. Oleh karena itu, akan lebih baik jika peneliti melakukan revisi sendiri terlebih dahulu terhadap laporan hasil penelitian sebelum memasukkannya kedalam lembaga penerbit jurnal. Peneliti yang lebih tahu sisi mana saja yang harus dicantumkan dan sisi mana saja yang bisa diringkas atau dihilangkan. Untuk bisa melakukannya dengan baik peneliti harus bisa menentukan bagian-bagian mana didalam laporan yang jika dipotong atau diringkas tidak akan mengurangi informasi atau data yang terkandung didalamnya. Menurut Tandon (2014) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat sebuah artikel ilmiah direvisi (review) untuk dipublikasi di jurnal ilmiah, yakni sebagai berikut:

Saat melakukanrevisi keseluruhan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apa isu penting yang ingin diselesaikan (dibahas) pada artikel yang kita buat?

dua, Orisinalitas dari karya ilmiah yang dibuat.

tiga, Masalah etika dalam membuat artikel. Apakah artikel yang dibuat tersebut menyinggung kepentingan suatu pihak atau tidak?

empat, Aturan dan gaya penulisan.

Saat melakukan revisi judul artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

apakah judul yang dibuat tersebut khusus & merepleksikan isi berdasarkan karya ilmiah secara holistik?

Saat melakukan revisi abstrak artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apakah penulisan abstrak sesuai dengan batasan jumlah kata yang telah ditentukan oleh jurnal? Sebuah abstrak biasanya hanya dibatasi sebanyak 200 kata dalam sebuah abstrak artikel ilmiah.

dua, Apakah isi abstrak sudah sesuai dengan isi artikel secara keseluruhan atau sudah mencerminkan bagian dari isi artikel.

tiga, Apakah terdapat perbedaan antara abstrak dan isi artikel baik itu makna yang ambigu atau pun juga pernyataan yang menyebabkan multitafsir dari abstrak terhadap bagian isi artikel penelitian.

empat, Apakah abtrak bisa dipahami tanpa perlu membaca isi artikel?

lima, apakah semua pertanyaan terkait abtrak artikel telah terjawab (dikoreksi) secara keseluruhan?

Saat melakukan revisi pendahuluan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apakah isi pendahuluan dibuat secara ringkas?

dua, Apakah tujuan dari penelitian sudah dimasukkan kedalam bagian pendahuluan?

tiga, Apakah landasan penelitian yang dibuat sesuai dengan PTK yang telah dibuat sebelumnya atau faktor kesenjangan apa (masalah apa) yang ingin diselesaikan pada penelitian ini?

empat, Apakah terdapat istilah-istilah atau kata-kata khusus pada bagian pendahuluan artikel?

lima, Hipotesis apa yang hendak diuji yang disampaikan pada bagian pendahuluan?

Saat melakukan revisi alat dan metodologi penelitian artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apakah rancangan metode penelitian sudah sesuai dan spesifik?

dua, Apakah perlu persetujuan dari lembaga tertentu dalam melakukan proses penelitian?

tiga, Apakah penggunaan metode dan alat telah dideskripsikan secara jelas dalam variabel dependen dan independen, serta analisis statistik yang dipergunakan? metode harus dinyatakan dengan cara yang memungkinkan untuk reviewer mengukur penelitian secara tepat.

empat, Jika penelitian telah menyediakan sebuah hipotesis, apakah metode yang dirancang sesuai untuk dipergunakan dalam pengujian hipotesis?

Saat melakukan revisi kesimpulan, tabel, dan gambar artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apakah kesimpulan sudah dijelaskan secara jelas?

dua, Apakah media presentasi yang digunakan selaras dengan metode penelitian yang dipakai?

tiga, Apakah penggunaan tabel, gambar, dan grafik sesuai dan memadai dalam artikel ilmiah?

empat, Apakah tabel dan gambar telah diberi label yang sesuai, dan apakah label tersebut memiliki makna atau arti terhadap isi artikel?

Saat melakukan revisi pembahasan atau kesimpulan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;

satu, Apakah isi pembahasan ringkas dan jelas?

dua, Apakah ada pernyataan yang jelas mengenai temuan hasil penelitian?

tiga, Apakah telah dijelaskan mengenai hasil temuan baru dalam penelitian?

empat, Apakah jelas bagaimana sebuah penelitian yang dilakukan cocok dan tidak cocok terhadap literatur yang ada saat ini?

lima, Bagaimakah hasil temuan yang berbeda dijelaskan?

enam, Adakah cacatan kelebihan dan kekurangan pada penelitian?

tujuh, Apakah kesimpulan yang dijelaskan sudah jelas dan ringkas mengenai implikasi dari hasil penelitian dan tahap yang akan dilakukan selanjutnya? jika ada!

delapan, Apakah penjelasan kesimpulan sudah jelas dan tidak berlebihan atau bahkan tidak pantas untuk ditambahkan pada hasil kesimpulan?

Saat melakukan revisi daftar pustaka artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah:

satu, Apakah daftar pustaka sudah mengikuti ketentuan format jurnal yang diikuti?

dua, Apakah daftar pustaka mengandung konten atau daftar referensi yang rusak?

tiga, Apakah semua daftar refensi yang relevan telah dimasukkan ke dalam daftar pustaka? atau adakah referensi yang terlupakan?

empat, Apakah point utama dari kutipan artikel sudah dikutip secara benar?

lima, Apakah terdapat daftar pustaka yang berlebihan daripada yang dibutuhkan?

DAFTAR RUJUKAN

Taback, N. Dan Krzyzanowska, M. K. (2008). A Survey of abstracts of high-impact clinical journals indicated most statistical methods presented are summary statistics. Elsevier: Journal of Clinical Epidemiology. Vol. 61: 277-281.

Tandon, R. (2014). How to review a scientific paper. Elsevier: Asian Journal of Psychiatry. Vol. 11: 124-127.

Elfan mauludi

Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal

Kesalahan EYD dalam PTK

EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan adalah sebuah pedoman kebahasaan yang sangat penting dalam proses keterampilan menulis. EYD merupakan aturan yang dijabarkan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan sesuai dengan Peraturan Menteri Nasional Republik RI No.46 Tahun 2009. Penulisan Karya ilmiah dalam hal ini adalah Penelitian Tindakan Kelas menggunakan Bahasa Indonesia yang baku sesuai dengan EYD. Sugihastuti (2007) berpendapat bahwa penulisan laporan penelitian harus menggunakan bahasa resmi atau bahasa baku, dalam hal ini bahasa indonesia. Penelitian yang dimaksud adalah bentuk-bentuk penelitian yang dilakukan didalam negeri, sedangkah untuk bentuk karya ilmiah yang diterbitkan diluar Indonesia penulisannya harus mengikuti aturan dari negara tempat diterbitkannya karya ilmiah tersebut.

Bentuk Kesalahan

Menguasai Keterampilan berbahasa artinya memehami tentang pemahaman ejaan, penguasaan penggunaan kata, penguasaan pemilihan kata, penguasaan susun kalimat efektif, dan penguasaan penyusunan paragraf secara utuh (Yulianto, 2003) dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang dipergunakan pada karya ilmiah merupakan jenis bahasa ragam tulis. Bahasa ragam tulis sangat berbeda dengan bentuk bahasa ragam lisan yang dibantu oleh sikap tubuh, isyarat, dan mimik atau ekspresi dari penutur manakala terjadi perbedaan tafsir atas pelisanan suatu hal atau maksud. Bahasa ragam tulis pada karya ilmiah haruslah dibuat secara jelas, lugas, dan komunikatif penyampaiannya, agar para pembaca bisa memahami isi yang terkandung didalam karya ilmiah (Ahmad et al, 2011).

Pedoman EYD, kamus bahasa Indonesia, dan tata bahasa adalah rambu yang digunakan dalam penulisan bahasa tulis baku untuk karya ilmiah dalam bahasa Indonesia. Ketepatan dalam penggunaan ejaan dapat dijadikan acuan sejauh mana tingkat pemahaman seseorang, serta bisa dijadikan ukuran tingkat 'melek bahasa' seseorang (Putrayasa, 2007). Melakukan kesalahan dalam berbahasa adalah hal yang wajar dalam proses belajar sebagai mana diungkapkan oleh Brown (2004). Dulay et al (1982) juga berpendapat bahwa seseoran tidak akan bisa mempelajari bahasa tanpa melakukan kesalahan yang sistematik. Corder (1985) meyakini bahwa setiap orang yang masih dalam proses belajar bahasa pasti pernah membuat kesalahan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempelajari kesalahan-kesalahan apa saja yang sering dilakukan dalam pembuat karya ilmiah, guna meminimalisir kesalahan dalam proses pembuatannya. Berikut ini akan dijelaskan bentuk-bentuk kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan karya ilmiah, berdasarkan hasil penelitian dari Turistiani (2013).

Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Turistiani (2013) menemukan bahwa kesalahan penggunaan ejaan antara lain terlihat pada kesalahan pemakaian tanda baca koma dan tanda baca titik, penggunaan huruf miring (italic), dan penggabungan kata (kata gabungan, kata imbuhan, kata depan, partikel kata, angka, dan lambang bilangan.

Kesalahan Pemakaian Tanda Koma (,)

Kesalahan pemakaian tanda koma (,) terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:

satu; Tanda koma tidak dipakai diantara unsur-unsur suatu perincian.

dua; Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat, jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

tiga; Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

empat; Tanda koma tidak dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang berada di awal kalimat.

lima; Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata 'tetapi' untuk 'melainkan'.

Enam,

Contoh kesalahan pemakaian tanda koma (,) dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; ... seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang.

perbaikan; seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang.

contoh dua; ... Bila atlet mengalami... ringan semisal terjadi robekan atau tarikan... diakibatkan maka pertolongan pertama adalah menggunakan metode RICE.

perbaikan; Bila atlet mengalami... ringan, semisal terjadi robekan atau tarikan ... diakibatkan, pertolongan pertama adalah menggunakan metode RICE.

contoh tiga; ... kelebihan latihan fisik, sehingga menyisakan radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh.

perbaikan; kelebihan latihan fisik sehingga menyisakan radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh.

contoh empat; ... Jadi manusia tidak bisa hidup tanpa gula.

perbaikan; Jadi, manusia tidak bisa hidup tanpa gula.

contoh lima; ... Olahraga ini menyehatkan tetapi jika berlebihan akan menurunkan sistem...

perbaikan; Olahraga ini menyehatkan, tetapi jika berlebihan akan menurunkan sistem...

contoh enam; ... kecepatan yang tinggi baik perorangan maupun ganda Anda mengejar shuttlecock yang...

perbaikan; ... kecepatan yang tinggi, baik perorangan maupun ganda, Anda mengejar shuttlecock yang...

Kesalahan Pemakaian Tanda Titik (.)

Kesalahan pemakaian tanda titik (.) terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:

satu; Tanda titik tidak dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

dua; Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar, padahal angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka dan huruf.

Contoh kesalahan pemakaian tanda titik (.) dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; ... yang telah diperoleh dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

perbaikan; ... yang telah diperoleh dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

contoh dua; 6.1. Kram Otot

perbaikan; 6.1 Kram Otot

Kesalahan Pemakaian Huruf

Kesalahan pemakaian huruf terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:

satu; Huruf miring (italic) tidak dipakai untuk menuliskan kata, nama ilmiah, atau ungkapan asing kecuali untuk istilah asing yang telah disesuaikan ejaannya.

dua; Huruf miring (italic) tidak dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat yang dikutip dalam tulisan.

Contoh kesalahan pemakaian huruf dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; Warming up adalah aktifitas yang berisi gerakan-gerakan...

perbaikan; Warming up adalah aktifitas yang berisi gerakan-gerakan...

contoh dua; ..., perlu juga melakukan peregangan atau streching.

perbaikan; ..., perlu juga melakukan peregangan atau streching.

contoh tiga; Direktur gizi. 1992. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bhatara.

perbaikan; Direktur gizi. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta: Bhatara.

contoh empat; Erman. 2007. Dasar-dasar Biokimia Olahraga. Surabaya: Unesa Unipress.

perbaikan; Erman. 2007. Dasar-dasar Biokimia Olahraga. Surabaya: Unesa Unipress.

Kesalahan Penulisan Kata

Kesalahan penulisan kata ditemukan pada penulisan gabungan kata, kata imbuhan, kata depan, partikel, angka, dan lambang bilangan. Kesalahan-kesalahan penulisan dijelaskan sebagai berikut.

Kesalahan Penulisan Gabungan Kata

Kesalahan penulisan gabungan kata terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;

satu; Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata tidak dituliskan serangkai.

dua; Jika gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, hanya muncul dalam kombinasi, unsur itu harus dituliskan serangkai dengan unsur lainnya (Arifin dan Tasai, 2009).

Contoh kesalahan penulisan gabungan kata dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; Kandungan buah kersen lebih baik dari pada minuman isotonik yang saat ini beredar di pasaran.

perbaikan; Kandungan buah kerseh lebih baik daripada minuman isotonik yang saat ini beredar di pasaran.

contoh dua; ..., sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang olah raga dan kesehatan ini dengan baik.

perbaikan; ..., sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang olahraga dan kesehatan ini dengan baik.

contoh tiga; Karakter cabang olahraga bola yang lebih banyak terjadi kontak fisik antar pemain,...

perbaikan; karakter cabang olahraga sepak bola yang lebih banyak terjadi kontak fisik antarpemain,...

Kesalahan Penulisan Kata Berimbuhan

Kesalahan penulisan kata berimbuhan terjadi karena tidak menuliskan serangkaian kata dasar yang mendapatkan imbuhan berupa awalan dan atau akhiran.

Contoh kesalahan penulisan kata berimbuhan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; ...aktifitas yang di lakukan oleh seseorang terutama yang memang pekerjaan...

perbaikan; ...aktifitas yang dilakukan oleh seseorang terutama yang memang pekerjaan...

contoh dua; Efek yang di timbulkan bila isotonik dikonsumsi secara berlebihan...

perbaikan; Efek yang ditimbulkan bila isotonik dikonsumsi secara berlebihan...

Kesalahan Penulisan Kata Depan

Kesalahan penulisan kata depan terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;

satu; Menuliskan kata depan di secara tidak terpisah dari kata yang mengikutinya.

dua; Menuliskan kata dengan ke secara tidak terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh kesalahan penulisan kata depan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; Diluarjaringan tubuh kekurangan pasokan glukosa dapat terhambat...

perbaikan; Di luar jaringan tubuh kekurangan pasokan glukosa karena terhambat...

contoh dua; Hal ini didukung dengan intensifnya informasi yang beredar di masyarakat.

perbaikan; Hal ini didukung dengan intensifnya informasi yang beredar dimasyarakat.

contoh tiga; Setelah itu endapan yang ada pada jus tersebut naik dengan sendirinya kepermukaanair.

perbaikan; Setelah itu endapat yang ada pada jus tersebut naik dengan sendirinya ke permukaan air.

contoh empat; ...kondisi anak, dan dapat mendorong ke arah perubahan tersebut.

perbaikan; ...kondisi anak, dan dapat mendorong kearah perubahan tersebut.

Kesalahan Penulisan Partikel

Kesalahan penulisan partikel terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;

satu; Menuliskan partikel pun secara tidak terpisah dari kata yang mendahuluinya.

dua; Menuliskan partikel per secara tidak terpisah dari kata yang mendahuluinya atau mengikutinya.

Contoh kesalahan penulisan pertikel dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; Selain bugar, merekapun telah melakukan tindakan preventif.

perbaikan; Selain bugar, mereka pun telah melakukan tindakan preventif.

contoh dua; Hal ini mengakibatkan ekspresi air juga bertambah, perasaan hauspun bertambah.

perbaikan; Hal ini mengakibatkan ekspresi air juga bertambah, perasaan haus pun bertambah;

contoh tiga; Dengan demikian siapapun yang berolahraga dengan baik dan benar...

perbaikan; Dengan demikian siapa pun yang berolahraga dengan baik dan benar...

contoh empat; Harus diakui, apapun cabang olahraganya pasti berpotensi cedera.

perbaikan; Harus diakui, apa pun cabang olahraganya pasti berpotensi cedera.

contoh lima; ... secara teratur tiga hingga lima kali perminggu pada hari yang ...

perbaikan; ... secara teratur tiga hingga lima kali per minggu pada hari yang ...

Kesalahan Penulisan Lambang Bilangan

kesalahan penulisan lambang bilangan terjadi karena penulis melakukan hal-hal sebagai berikut;

satu; Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak ditulis dengan huruf atau kata.

dua; Lambang bilangan pada awal kalimat tidak ditulis dengan huruf.

Contoh kesalahan penulisan lambang bilangan dapat dilihat seperti contoh berikut ini;

contoh satu; ...dan penggantian glikogen memerlukan waktu lebih dari 2 hari.

perbaikan; ...dan penggantian glikogen memerlukan waktu lebih dari dua hari.

contoh dua; ...bila dilakukan 3 kali dalam seminggu dalam jangka waktu 1 bulan.

perbaikan; ...bila dilakukan tiga kali dalam seminggu dalam jangka waktu satu bulan.

contoh tiga; ..., gerakan tersebut dilakukan sampai dengan 20 hitungan.

perbaikan; ..., gerakan tersebut dilakukan sampai dengan dua puluh hitungan.

contoh empat; ...selama 6 bulan akan menghasilkan peningkatan kemampuan optimal.

perbaikan; ...selama enam bulan akan menghasilkan peningkatan kemampuan optimal.

contoh lima; 4 prinsip penanganan cedera otot yang benar.

perbaikan; empat prinsip penanganan cedera otot yang benar.

contoh enam; 6 langkah mudah mencegah cedera bermain bulu tangkis.

perbaikan; enam langkah mudah mencegah cedera bermain bulu tangkis.

contoh tujuh; 3 macam perubahan kardiovaskular yang dialami oleh organ tubuh...

perbaikan; tiga macam perubahan kardiovaskular yang dialami oleh organ tubuh...

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, E. Z., dan Tasai, S. A. (2009). Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.

Ahmadi, dkk. (2011). Menulis Ilmiah: Buku Ajar MPK Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa University Press.

Brown, H. D. (2004). Principles of Language Teaching and Learning. New Jersey: Prentice Hall Inc.

Corder, S. P. (1982). Error Analysis and Interlanguage. Oxford: OxfordUniversity Press.

Putra, I. B. (2007). Kalimat Efektif. Bandung: PT Refika Aditama.

Turistiani, T. D. (2013). Fitur Kesalahan Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan dalam Makalah Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya. Vol. 01, No. 01,

Sugihastuti. (2007). Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yulianto, B. (2003). Segi-segi Penulisan Laporan. Surabaya: Makalah Seminar Nasional Penulisan Karya Ilmiah.

Elfan mauludi

Kesalahan EYD dalam PTK

Ketentuan Teknis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Disamping memakai pilihan kata yg sempurna & ejaan yg disempurnakan (EYD), masih ada anggaran-anggaran teknis lain yang juga harus dipatuhi pada penulisan karya ilmiah. Seluruh anggaran ini baiknya ditaati agar laporan lebih sistematis sehingga sanggup memperkuat alur logika ilmiah yg kita bagun. Terlebih lagi, anggaran teknis ini dapat memberi kesan teratur & enak dibaca pada laporan yang kita susun. Beberapa aturan teknis tadi diantaranya:

Sistem Penomoran

Suatu tulisan yg diatur kedalam angka-nomor yg berurutan akan lebih mudah dicerna & dipahami alur logikanya. Sebenarnya, fungsi ini juga bisa digantikan menggunakan penggunaan pertanda penghubung, sub-topik, atau kalimat pengantar. Tetapi, ketiganya hanya efektif buat digunakan pada goresan pena-goresan pena pendek dan tidak efektif buat goresan pena panjang, misalnya karya ilmiah yg mencapai ratusan halaman. Oleh karenanya, dipilih sistematika penomoran karena sistem ini mampu menjadi penghubung antarkalimat & paragraf, dan bagian demi bagian yang tanpa batas panjangnya.

Untuk detail, peneliti bisa melihat berbagai jenis artikel ilmiah yg dimuat dijurnal ilmiah atau teks ajar, yang biasanya masih ada contoh-contoh sistematika penomoran yang disusun secara sistematis menjadi penghubung antar goresan pena, wangsit, & gagasan. Jika masih ada buku atau jurnal yg nir menggunakan sistem penomoran, niscaya terdapat sistem lain yg dipakai penulis buat menghubungkan bagian-bagian dari tulisannya. Berikut ini dikemukakan tentang jenis-jenis sistematika penomoran tersebut.

Penomoran dengan Huruf

Pada biasanya, sistematika penomoran dengan menggunakan alfabet adalah angka bab menggunakan huruf kapital, angka subbab menggunakan alfabet nir modal & nomor subbab memakai huruf latin nir modal yg ditambah dengan indikasi kurung separuh misalnya model yang diperlihatkan dalam gambar 1.

sistem penomoran dengan menggunakan sistem penomoran huruf
Gambar 1 sistem penomoran huruf

Penomoran dengan Angka

Sedikit tidak selaras menggunakan sistem penomoran dengan huruf, sistem penomoran menggunakan angka semuanya memakai nomor , baik judul bab maupun subbab, bahkan sub subbab yang mengikutinya. Cara penulisannya sama menggunakan sistem penomoran yg telah dijelaskan sebelumnya misalnya diperlihatkan pada gambar 2.

sistem penomoran dengan menggunakan angka
Gambar 2 sistem penomoran angka
Kedua contoh diatas (penggunaan sistem penomoran dengan huruf dan angka) menunjukkan gambaran yang jelas mengenai penggunaan huruf dan angka sebagai penyambung ide dan gagasan dari keseluruhan tulisan. Tetapi, jika diperhatikan, kedua contoh diatas tidak mampu menghubungkan ide dan gagasan hingga subbab yang lebih detail secara memadai. Penggunaan sistem penomoran angka maupun huruf hanya sebatas bab dan subbab.

Penomoran Gabungan

Bagaimana menggunakan sistem penomoran dengan taraf kedetailan yg lebih kaku? Dalam hal ini, kita bisa memakai sistem penomoran secara gabungan, yakni menggunakan huruf & nomor sekaligus. Poin ini akan membahas adonan antara sistem penomoran alfabet & sistem penomoran nomor .

Model penomoran secara kombinasi merupakan campuran antara sistem penomoran dengan huruf dan angka. Angka Romawi digunakan menjadi angka bab, alfabet latin digunakan sebagai nomor subbab, sedangkan nomor dipakai sebagai sub berdasarkan subbab. Model penomoran secara kombinasi ini lebih variatif dan memiliki jangkauan sub-subbab yg lebih lebih jelasnya, tanpa mengurangi daya paham pembacanya. Untuk lebih jelasnya, lihat model gambar 3.

sistem penomoran dengan menggunakan sistem penomoran gabungan
Gambar 3 sistem penomoran gabungan
Pemilihan Huruf, margin, dan spasi

Penulisan karya ilmiah, termasuk PTK, sudah ditentukan standar bakunya, yakni sinkron menggunakan ketentuan dari forum atau instansi masing-masing yang menerbitkan karya ilmiah. Selain huruf & jarak antarbaris, kertas yang dipakai buat mencetak karya ilmiah juga sudah dipengaruhi sesuai dengan baku & ketentuannya masing-masing.

Elfan mauludi

Ketentuan Teknis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Pengertian Diseminasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Menurut Rogers (1983), diseminasi adalah sebuah proses yang interaktif terkait mengenaipenyampaian inovasi, dimana akhir dari proses ini adalah perubahan pandangan atau pola pikir serta tindakan dari segala aspek yang terlibat didalam proses. Proses Diseminasi adalah kegiatan yang tidak berjalan satu arah tetapi ini merupakan proses yang melibatkan aksi dan reaksi yang saling memengaruhi pola pikir komunitas sasaran, namun bisa juga berdampak terhadap individu yang membawakan inovasi itu sendiri sebagaimana yang disampaikan oleh Sarnawi (2011). Pada proses diseminasi unsur-unsur penting yang terlibat serta memengaruhi tingkat keberhasilannya diantaranya adalah inovasi yang dipresentasikan, media presentasi yang dipergunakan, waktu presentasi, serta pihak mana saja yang terlibat dalam proses tersebut.

Hakikat dari diseminasi adalah penyebarluasan, tentu hal yang dimaksud dengan menyebarluaskan disini adalah menyebarluaskan temuan yang telah dihasilkan dalam proses PTK. Walaupun demikian, diseminasi tidak semata menyebarluaskan hasil PTK saja. Diseminasi hasil penelitian dimaksudkan agar pihak-pihak yang berkepentingan yaitu para guru mata pelajaran mendapatkan masukan informasi baru, kemudian mempelajarinya, mencobanya, dan mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran dikelas. Sekadar contoh, seorang guru yang melakukan PTK dengan mengangkat tema "Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry". Dalam penelitian itu ditemukan, bahwa metode inquiry dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hingga 70%. Dengan melihat hasil penelitian tersebut, tentu para guru matematika yang lain akan tertarik untuk mencobanya. Jika percobaannya berhasil, maka mereka akan menerapkan hasil temuan PTK tersebut dikelasnya masing-masing. Dari sini, diharapkan para guru tersebut turut terpanggil untuk lebih mengembangkan atau melanjutkan penelitian terdahulu dengan melakukan PTK yang lebih mendalam. Inilah hakikat dari diseminasi penelitian yang sesungguhnya.

Disamping itu, prosesi diseminasi itu sendiri pula mengandung pelajaran yg sangat berharga, baik bagi pengajar yg melakukan PTK juga guru lain yang menjadi peserta diseminasi. Bagi guru yang melakukan PTK, beliau akan menerima banyak sekali pertanyaan, sanggahan, ketidaksetujuan, bahkan kritik saat sedang mendiseminasikan output penelitiannya. Tidak hanya itu, pengajar atau peneliti jua akan mendapatkan apresiasi atas output penelitiannya.

DAFTAR RUJUKAN

Rogers, E. M. (1983). Diffusion of Innovations. Third Edition, The Free Press, New York.

Sarwani, M., Jama, E., Subagyono, K., Sirnawati, E., dan Hanifah, V. W. (2011). Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) Dissemination: Innovative Idea on Locally Specific Technology Transfer. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol. 09, No. 01.

Elfan mauludi

Pengertian Diseminasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Laboratorium Pustaka dan Lapangan

Penelitian Laboratorium

Laboratorium adalah tempat bekerja untuk melakukan kegiatan percobaan atapun penyelidikan terhadap bidang ilmu tertentu (Kertiasa, 2006). Laboratorium juga dapat dimaknai dalam artian yang lebih sempit sebagai suatu ruangan tertutup dimana kegiatan peneletian atau percobaan terhadap subjek penelitian dilakukan, 'tempat' dalam hal ini yang mengacu pada definisi laboratorium dapat diartikan sebagai ruangan tertutup, kamar, atapun ruangan terbuka.

Penelitian Pustaka

Penelitian pustaka atau studi pustaka adalah sebuah metode yang biasa digunakan untuk menyelidiki secara teliti beberapa pendekatan yang berbeda dari topik penelitian yang akan diteliti (Lage dan Godinho, 2010). Studi literatur Jurnal dan proceedings adalah dokumen ilmiah yang biasa diselidiki pada kegiatan penelitian untuk menemukan informasi penelitian yang baru (Ngai et al, 2008 dan Lage dan Godinho, 2010).

Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan memiliki definisi yang berbeda-beda tergantung dari setiap definisi peneliti yang melakukan penelitian atau penulis yang membuat sebuah jurnal penelitan ilmiah (Anderson dan Widener, 2007). Birnberg et al (1990) mengatakan bahwa natural setting tidak tercipta untuk tujuan utama dalam melakukan penelitian. Ferreia dan Merchant's (1992) mengatakan bahwa penelitian lapangan memiliki definisi yang tergantung dari definisi para periset atau peneliti yang melibatkan pengalaman langsung dan secara mendalam terhadap para anggota yang terlibat dan bidang atau lapangan dari penelitian yang diinformasikan dari dalam dan muncul dari kontak langsung antara lingkungan penelitian dan peneliti itu sendiri. Ferreira dan Merchant's juga menambahkan bahwa interview dan observasi langsung adalah sebagai sumber data utama. Penelitian lapangan digunakan untuk menyaring hasil survei atau menambahkan interpretasi baru atau menemukan hal lain yang tidak penting.

DAFTAR RUJUKAN

Anderson, S. W., dan Widener, S. K. (2006). Doing Quantitative Field Research in Management Accounting. Handbooks of Management Accounting Research. pages: 319-341.

Birnberg, J. G., Shields, M. D. & Young, S. M. (1990). The case for multiple methods in empirical management accounting research (with an illustration from budget setting). Journal of Management Accounting Research, 2, 33–66.

Ferreira, L. D. & Merchant, K. A. (1992). Field research in management accounting and control: a review and evaluation. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 5, 3–34.

Kertiasa, N. (2006). Laboratorium sekolah dan pengelolaannya. Pudak Scientific: Jakarta.

Lage, J. M., dan Godinho, F. M. (2010). Variation of the kanban system: literature review and classification. International Journal of Production Economics 125, 13-21.

Ngai, E. W. T., Moon, K. K., Riggins, F. J., dan Yi, C. Y. (2008). RFID research: an academic literature review (1995-2005) and future research directions. International Journal of Production Economics 112 (2), 510-520.

elfan mauludi

Penelitian Laboratorium Pustaka dan Lapangan